Dilematis Usia 20an, Harus SENDIRI !

By Gusti Gina - Monday, July 17, 2017

Welcome 20!



Sebenarnya usia aku 22 tahun sih. Diujung masa studi perkuliahan dan di depan pintu kehidupan sesungguhnya. Di titik ini, kehidupan puluhan tahun mendatang ditentukan *inshaAllah kalau umur panjang*. Di usia ini biasanya kita menentukan pekerjaan apa yang akan kita geluti untuk menopang kehidupan, maksudnya benar-benar sebuah profesi.

Memang, Alhamdulillah beberapa tahun terakhir bisa dikatakan aku minta uang dari orang tua sangat-sangat jarang, kecuali UKT kuliah yang gila mahal banget bagi aku pribadi. Ada sih kemaren setengahnya juga pakai uang aku sendiri. Loh ? mahasiswi dari mana dapat uang buat kebutuhannya ? Cewek lagi. Dari ujung kaki sampe ujung rambut butuh uang? Belum lagi soal perut.

Well... It's not easy as you think to get money guys. Buat kalian yang sudah merasakan gimana susahnya cari uang, you'll get it what I mean, right? Buat yang belum pernah, kalian pasti bingung. I see, aku pernah di posisi itu. Freelance. Ya aku jadi freelance. Hahaha freelance apa ? Apa aja. Selama aku bisa kerjain. Itu yang aku kerjakan beberapa tahun terakhir, tapi rada kendor di beberapa bulan terakhir karena aku beralih ke online shop. Hahaha

Biasanya aku ngambil job, MC, crew running acara, dan digital marketing. Menyenangkan, karena uangnya juga gede. Yaaaa berjut jut sih per bulan kalau di total. Tapi ga banyak banget juga. Karena balik lagi ke kebutuhan. Especially, aku cewek. Aku juga sadar kebutuhan primer ku mungkin lebih banyak dibanding kebanyakan cewek lain. Jadi ya gitu. Oh ya, saat aku lancar ngejob itu saat tahun 2015-2017 pertengahan.

Sejak pertengahan 2017 sampai detik ini, agak mandek. Karena aku harus menyelesaikan sesuatu yang sudah aku mulai. Kuliah. Skripsi. Iya mereka berdua. To be honest, tawaran kerja juga beberapa kali datang. Bahkan hari ini, 2 jam yang lalu salah satu bank di kota aku menghubungi via WA minta jadi sekretaris (atas rekomendasi temen). jujur aku sangat tergiur. Aku patut bersyukur, karena jaringan pertemanan Alhamdulillah tidak begitu sulit bagiku mencari pekerjaan. Hampir setiap bulan ada saja yang ngajak kerja, baik itu swasta, bumn, ataupun honorer di pemerintahan. Godaan berat sekaliiii !! satu sisi skripsi aku belum selesai.

Aku juga sudah punya rencana kehidupan bersama doi. Langkah-langkah yang akan ditempuh menghabiskan usia dan menopang kehidupan. That's why setiap ada tawaran, orang yang pertama aku ajak diskusi selalu dia. Kita sudah merancang plan A plan B plan C dst. Semua kemungkinan di pertimbangkan, tapi tetap berpegang pada plan A sebagai peta kami.

Harus sabar. Ya aku harus sabar, tugas pertama menyelesaikan perkuliahan terlebih dahulu. Sebenarnya aku memperkirakan pertengahan tahun 2018 ini akan selesai. Namun itu cukup panjang. Aku bersyukur saat usia 18-21 kemaren aku benar-benar melakukan pengembangan diri, ada banyak skill yang aku pelajari dan itu tidak aku dapat dibangku kelas. Aku selalu bilang ke adik-adik ku, selama masa sekolah, SD-SMP-SMA bermainlah dan rasakan banyak emosi seperti jatuh cinta, sedih, senang, apapun. Bahagiakan dirimu sebahagia-bahagianya, lakukan apa yang mau kamu lakukan.  Memasuki dunia perkuliahan, berprestasilah, kembangkan diri dengan sebaik mungkin untuk mendapatkankan soft skill atau hardskill bekal untuk kerja nanti. Tapi ya balik lagi ke mereka sih. Hahaha

Ya setiap orang punya pandangan masing-masing atas kehidupannya, aku tidak memaksa orang untuk sependapat dengan aku. Aku juga tidak ingin dipaksa sependapat dengan pendapat yang bertentangan dengan aku. Sejauh ini, aku cukup puas dan bersyukur untuk jalan yang ku lewati dengan banyak drama yang sudah dihadapi. Ini cara Tuhan memberi aku hidup.

Balik lagi ke usia 20an. Aku merasakan apa yang kakak-kakak aku bilang saat dia seusiaku dan aku masih belasan tahun. Perasaan campur aduk saat ditanya "kapan lulus?" "kapan nikah?" "mau kerja apa?" dan pertanyaan lain tentang kehidupan. Sebenarnya menyenangkan kalau kita dapat berbagi pemikiran dengan orang yang mengerti dan stabil. Terutama yang seusia atau yang di atas usia kita. Tapi kalau yang nanya masih dedek dedek gemes, rasanya percuma menjelaskan karena "pemikirannya" belum sampai ke tahap ini. Biasanya ya aku jawab dengan candaan kalau yang nanya dedegem.

Setiap orang pasti punya rencana. Bahkan orang yang bilang, "ya liat aja dulu, ngalir aja lah". Itu juga rencana. Itu rencana dia untuk mengikuti arus, apalagi tipe orang yang sudah tersistematis rencananya. Semua orang punya nilai yang diyakininya, apapun itu. Usia 20an dilema, yang dipikirkan tidak melulu soal cinta yang romantis. Kita bakal sadar, buat nikah itu ga semudah "nikmatnya menikah muda". Semua itu proses. Ya ada sih yang instan dan bisa cepat, tapi tidak semua.

Menikah itu proses. Proses mengenal pasangan, proses mengenal keluarga pasangan, dan proses ngumpulin uang puluhan juta buat acara penikahan dan resepsi. Kenapa harus mengenal? Kita nggak bisa membuat semua orang sependapat dengan kita dan menyukai kita. Ada usaha untuk itu. Kenapa juga harus dengan keluarganya? Yang mau jadi pasangan kita ini anak orang, dia punya orang tua, adik, kakak, om, tante,  nenek, dll yang lebih dulu kenal dan sayang sama dia. Kita harus masuk ke "circle" mereka. Kenapa mesti puluhan juta? Nikah nggak pake baju tidur yang sudah ada di lemari toh? Pake make up toh? Dekor? Keluarga dan tamu butuh makan minum kan? Itu sih yang dulu sempat ga terpikir. Mikirnya mau nikaaaah aja. Tapi, nikah sulit bener ya ? I'll say no. Insha Allah mudah, kalau memang mau usaha, doa, dan jalanNya. Yang penting jalanin aja dulu prosesnya.

Kerja itu proses. At least ya ada seleksi kerja kan. Aku memang belum pernah mengikuti seleksi rekrutmen kerja. Tapi Alhamdulillah mendampingi, melihat, dan belajar proses rekrutmen sudah. Nilai IPK penting? Penting. Karna itu adalah tes administrasi pertama. Berarti kalau tinggi IPKnya aman dong? Nggak. Karna masih banyak tes selanjutnya, di sini akan di uji keterampilan kamu yang kebanyakan nggak di dapat dibangku perkuliahan. That's why, semua nya harus balance, akademik dan sosial.

Usia 20an, Waktunya bangun dan menghadapi kenyataan bahwa hidup itu kita SENDIRI yang menentukan mau seperti apa. Iya kita bener-bener sendiri. Bukan dalam artian secara fisik dan emosional. No ! kita sendiri dalam "membuat keputusan" jalan kita ke depan! Get READY!

  • Share:

You Might Also Like

0 comments