Cinta, Kebutuhan atau Keinginan?

By Gusti Gina - Wednesday, November 16, 2016

Cinta. sebuah bentuk emosi yang kerap dikehidupan kita. Cinta berbentuk kasih sayang, memberi, menerima, kepercayaan, ketulusan, dan sejuta sensasi lainnya. Cinta tidak hanya berwujud pada rasa dengan lawan jenis, namun juga dapat kepada teman, sahabat, keluarga, benda kesayangan, dan Tuhan.

Di sini saya tertarik untuk menuangkan pemikiran mengenai Kebutuhan dan Keinginan. Tiba-tiba saja saya terpikir hal ini saat saya melihat hujan di luar jendela kamar. Saya bertanya-tanya, apakah cinta itu sebuah kebutuhan atau sebuah keinginan? Apakah semua orang berhasil membedakannya? Apakah berdampak apabila memilih cinta berdasar kebutuhan atau cinta berdasar keinginan?
Jadi, yang mana yang lebih baik? Cinta berdasar kebutuhan atau cinta berdasar keinginan? dan jutaan pertanyaan lainnya.

Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya menyebutkan ada 5 tingkat kebutuhan manusia. Pertama, basic needs (kebutuhan biologis, seperti makan dan minum), safety needs (kebutuhan akan keamanan, belongingness and love needs (persahabatan, keluarga, hubungan spesial), self-esteem needs (harga diri, menghargai orang lain, dihargai orang lain, kepercayaan diri), dan self-actualization (aktualisasi diri).

Dilihat dari teori Maslow memang cinta menjadi bagian dari kebutuhan manusia. Tapi realitanya? Ada unsur keinginan di sana? Sebut saja kita sedang membahas cinta dalam hal hubungan spesian lawan jenis.

Pernahkah kamu naksir seseorang?
Apa kamu butuh dia?
Atau kamu ingin dia?

Pernahkah kamu ditaksir seseorang?
Apa kamu butuh dia?
Atau kamu ingin dia ?

Menurut saya ini adalah dua hal yang berbeda. Banyak kasus di lapangan, nyatanya individu kadang bingung menentukan siapa yang dia butuhkan dan siapa yang ia inginkan. Saat ada sosok yang selalu ada untuknya di setiap kesempatan baik suka ataupun duka namun tidak diinginkan, dan ada sosok lain yang diidamkan alias dinginkan?

Analoginya, Feli selama ini kemana-mana ditemani motornya, kemanapun dia pergi saat keadaan darurat apapun dia dapat mencapai tujuan dengan motornya. Tapi jauh dalam lubuk hati Feli, dia menginginkan motor baru yang dia idamkan. Namun kalau Feli tidak bersama motornya sekarang, bagaimana Feli menjalani hari-harinya? Tapi, apakah salah dengan Feli yang mengiginkan motor baru? 

Entahlah saya sendiri masih bingung dengan kebutuhan dan keinginan ini apabila dibawa ke hal yang lebih kompleks. Atau hal kecil yang bisa menjadi kompleks hanya karena kesalahan kita memilih antara kebutuhan dan keinginan. Mungkin dari kalian ada yang bisa menjelaskan?

Menurutku dalam sebuah hubungan spesial lawan jenis, ada baiknya berdasarkan kebutuhan. Terutama disaat perasaan mulai mengambang, keinginan bersifat berlebihan (kadang-kadang), padahal yang sebenarnya kita membutuhkan tidak seperti yang dibayangkan keinginan. Ya sebenarnya tergantung individu masing-masing, kalau menurut saya pribadi cinta berdasarkan kebutuhan membuat kita mengerti bahwa hal yang kita butuhkan dapat didapatkan bersama pasangan. Cinta berdasar keinginan? Meski dia adalah sosok idealmu, kita masih tidak tahu apakah dia dapat memenuhi hal yang kita butuhkan, misalnya hal yang sudah masuk kedalam pola hubungan, ketulusan, kejujuran, dapat memberi, dan sebagainya.

Nah selain itu, dikehidupan sehari-hari juga ada baiknya kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Perlu adanya penyesuaian kondisi dalam memilih kebutuhan dan keinginan. Keduanya tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk. Menurut saya, keduanya dapat mengantar ke keberhasilan tujuan. Kebutuhan membuat kita bersyukur, keinginan membuat kita termotivasi.

Entahlah, bagaimana pendapatmu?




  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. https://kampusbit.com
    http://kampusbit.com
    Kampusbit.com
    Binary Digital System Center | Software House | Digital Marketing | Free Consultation IT

    ReplyDelete