Perkembangan Remaja : Psikologi Perkembangan 2

By Gusti Gina - Thursday, April 03, 2014



BAB II
ISI
A.    Pengertian Remaja, Pertumbuhan dan Perkembangan, Ciri-Ciri Remaja, dan Perkembangan Masa Remaja dalam Berbagai Aspek.

1.    Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992).
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dengan demikian, pola pikir dan tingkah lakunya merupakan peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa (Damaiyanti, 2008).
Menurut Dorland (2011), “remaja atau adolescence adalah periode di antara pubertas dan selesainya pertumbuhan fisik, secara kasar mulai dari usia 11 sampai 19 tahun”.
Menurut Sigmund Freud (1856-1939), dalam Sunaryo (2004:44) mengatakan bahwa fase remaja yang berlangsung dari usia 12-13 tahun hingga 20 tahun.
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang dalam rentang masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Pada masa ini, pola pikir dan tingkah laku remaja sangat berbeda pada saat masih kanak-kanak. Hubungan dengan kelompok (teman sebaya) lebih erat dibandingkan hubungan dengan orang tua.
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Istilah ini menunjuk masa dari awal pubertas sampai tercapainya kematangan, biasanya mulai dari usia 14 pada pria dan usia 12 pada wanita. Batasan remaja dalam hal ini adalah usia 10 tahun s/d 19 tahun menurut klasifikasi World Health Organization (WHO)..“Remaja”. Kata itu menurut remaja sendiri adalah kelompok minoritas yang punya warna tersendiri,  yang punya “dunia” tersendiri yang sukar dijamah oleh orang tua. Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolescence mempunyai arti yang cukup luas: mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. ( Piaget ). Dengan mengatakan poin-poin sebagai berikut secara psikologis masa remaja :
1.    Usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa.
2.    Usia dimana anak tidak merasa dibawah tingkat orang –orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang –kurangnya masalah hak.
3.    Integrasi dalam masyarakat dewasa mempunyai banyalah aspek afektif.
4.    Kurang lebih berhubungan dengan masa puber.
5.    Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa.
Fase remaja merupakan perkembangan individu yang sangat penting, yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi. Menurut Konpka (Pikunas, 1976) masa remaja ini meliputi
(a)  remaja awal: 12-15 tahun;
(b) remaja madya: 15-18 tahun;
(c)  remaja akhir: 19-22 tahun.
Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.
Dalam budaya Amerika, periode remaja ini dipandang sebagai “Strom dan Stress”, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralineasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Lustin Pikunas, 1976).

2. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung dalam periode tertentu. Oleh karena itu dari hasil pertumbuhan adalah bertambahnya berat, panjang atau tinggi badan, tulang dan otot-otot menjadi lebih kuat, lingkar tubuh menjadi lebih besar, dan organ tubuh menjadi lebih sempurna. Pada akhirnya pertumbuhan ini mencapai titik akhir, yang berarti bahwa  pertumbuhan selesai. Bahkan pada usia tertentu, misalnya usia lanjut, justru ada bagian-bagian fisik tertentu yang mengalami penurunan dan pengurangan.
Sedangkan perkembangan lebih mengacu kepada perubahan karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah yang lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya merujuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang baru. Perubahan seperti itu tidak lepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan kemampuan dan sifat psikis dipengaruhi oleh perubahan struktur biologis.

3.    Ciri-ciri Masa Remaja
Menurut Hurlock, remaja memiliki ciri-ciri khusus yang spesifik dalam diri seorang remaja, yaitu :

·       Masa Remaja sebagai Periode yang Penting
Meskipun semua periode adalah penting, tetapi kadar kepentingan usia remaja cukup tinggi mengingat dalam periode ini begitu besar pengaruh fisik dan psikis membentuk kepribadian manusia. Periode ini membentuk pengaruh paling besar terhadap fisik dan psikis manusia sepanjang hayatnya kelak.

·       Masa Remaja sebagai Periode Peralihan
Peralihan bukan berari terputusnya suatu rangkaian sebelumnya dengan rangkaian berikutnya. Peralihan lebih menuju pada arti sebuah jembatan pergantian atau tahapan antara dua titik. Titik ini juga bisa disebut titik rawan periode manusia, di mana dalam titik ini terbuka peluang untuk selamat atau tidaknya pola pikir dan pola sikap manusia sebagai pelaku peralihan itu sendiri. Peralihan ini dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Tidak dikatakan masa kanak-kanak yang penuh masa-masa bermain-main, tetapi juga tidak masa dewasa, yang penuh kematangan dalam pemikiran dan tingkah laku.

·       Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan tingkah laku remaja sama dengan perubahan fisiknya. Ada lima perubahan yang bersifat universal :
a.     Meningginya emosi
b.    Perubahan tubuh
c.     Perubahan minat dan peran dalam pergaulan sosial
d.    Perubahan pola nilai-nilai yang dianutnya
e.    Perubahan yang ambivalen, di mana masa remaja biasanya menginginkan perubahan, tetapi secara mental belum ada kesadaran tanggungjawab atas keinginannya sendiri.

·       Masa remaja sebagai usia bermasalah
Masa remaja memiliki masalah yang sulit di atasi, disebabkan adanya kebiasaan penyelesaian masalah dalam masa sebelumnya yaitu masa kanak-kanak oleh orang tua dan guru sehingga remaja kurang memiliki pengalaman dalam menyelesaikan setiap masalahnya. Oleh karena dalam penyelesaian masalahnya remaja kurang siap, maka kadangkala tidak mencapai keberhasilan yang memuaskan, sehingga kegagalan tersebut bisa berakibat tragis.

·       Masa remaja sebagai masa mencari identitas
Salah satu cara untuk menampilkan identitas diri agar diakui oleh teman sebayanya atau lingkungan pergaulannya, biasanya menggunakan simbol status dalam bentuk kemewahan atau kebanggan lainnya yang bisa mendapatkan dirinya diperhatikan atau tampil berbeda dan individualis di depan umum.

·       Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan
Sebagaimana disampaikan oleh Majeres yang dikutip oleh Hurlock dalam Psikologi Perkembangan (2009:208), disebutkan bahwa “banyak anggapan popular tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai, dan sayangnya, banyak yang bersifat negatif”. Ini gambaran bahwa usia remaja merupakan usia yang membawa kekhawatiran dan ketakutan para orang tua. Stereotip ini  memberikan dampak pada pendalaman pribadi dan sikap remaja terahadap dirinya sendiri.

·       Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik
Berbagai harapan dan imajinasi yang tidak masuk di akal seringkali menghias pemikiran dan cita-cita kaum remaja. Ambisi melintasi logika tersebut tidak dapat dikendalikan dan selalu ada dalam pengalaman hidup perkembangan psikologi remaja. Ia melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang dicita-citakan dan diinginkan, bukan sebagaimana adanya di alam nyata.

·       Masa remaja sebagai ambang masa dewasa
Kebiasaanya di masa kanak-kanak, ternyata masih juga kadang terbawa di usia remaja ini, dan teramat sukar untuk menghapusnya. Sementara usianya yang menjelang dewasa menuntut untuk meninggalkan kebiasaan yang melekat di usia kanak-kanak tersebut. Menyikapi kondisi ini, kadangkala untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dewasa dan sudah siap menjadi dewasa, mereka bertingkahlaku yang meniru-niru sebagaimana orang dewasa di sekitarnya bertingkahlaku, bisa tingkahlaku positif dan bisa negatif.

4.    Perkembangan Fisik Masa Remaja
Perkembangan fisik masa remaja sebenarnya berkaitan erat dengan pubertas. Jadi, dapat dibilang masa perkembangamn fisik remaja adalah masa pubertas. Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Bukan hanya dalam artian psikologis, tetapi juga fisik. Bahkan, perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.Pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna pada saat masa pubertas berakhir, dan juga belum sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja. Terdapat penurunan  dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal lebih menonjol daripada perkembangan eksternal. Hal ini tidak mudah diamati dan diketahui.
     Pubertas sendiri berasal dari bahasa latin, yaitu puberatum yang mempunyai arti usia kematangan atau kedewasaan. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah.
Beberapa pengertian pubertas menurut para ahli, yaitu:
     Menurut Prawirohardjo (1999: 127) pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.
     Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak matang menjadi matang.
     Menurut Monks (2002: 263) pubertas adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual.
     Menurut Root dalam Hurlock (2004) Pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat–alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.
Dari beberapa pengertian tersebut, pengertian pubertas secara umum adalah pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual.
Ciri-Ciri Pubertas
·       Sebagai periode tumpang tindih (overlapping period)
     Karena mencakup tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan tahun-tahun awal masa remaja.Sampai anak matang secara seksual, anak dikenal sebagai “anak puber”. Setelah matang secara seksual, anak dikenal sebagai remaja.

·       Sebagai periode yang singkat
     Dikatakan periode yang singkat karena berlangsung sekitar 2 sampai 4 tahun.Anak yang mengalami masa puber selama dua tahun atau kurang, dianggap anak yang “cepat matang”, sedangkan yang membutuhkan waktu 3-4 tahun, dianggap anak yang “lambat matang”.Anak perempuan lebih cepat matang dari pada anak laki-laki.

·       Sebagai periode masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat
     Periode yang lain adalah pada masa prenatal. Perubahan-perubahan yang pesat terjadi selama masa puber menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman, dan kebanyakan memperlihatkan perilaku yang kurang baik.

·       Sebagai masa negatif
     Karena individu mengambil sikap “anti” terhadap kehidupan atau kelihatannya kehilangan sifat-sifat baik yang sebelumnya sudah berkembang.

Batasan-Batasan Masa Pubertas
Menurut Hurlock, batasan usia pubertas adalah :
Laki-laki            : 12 – 16 Tahun
Perempuan        : 11 – 15/16 Tahun
Batasan masa pubertas berdasarkan periode:
a)    Pre pubertas
Awal pubertas, tumpang tindih dengan akhir masa anak-anak.
Ciri: Adanya perubahan fisik yang mulai berkembang, tetapi alat reproduksi belum matang.

b)   Usia anak Pubertas
Terdapat pada batas usia anak sampai remaja
Ciri: Alat reproduksi sudah mulai matang, tetapi perkembangan badan belum sempurna.
Biasanya ditandai dengan:
            - Pada Wanita             : Haid pertama
            - Pada laki-laki            : Wet dream
       Biasanya dikatakan sebagai kriteria pubertas

c)    Pasca Pubertas
Akhir pubertas : biasanya organ-organ seksual mulai matang dan berfungsi ciri-ciri kelamin sekunder (perubahan badan sudah berkembang).

1.    Variasi dalam perubahan fisik
Perubahan fisik belum sempurna pada masa remaja hingga masa remaja akhir.Terdapat penurunan dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal lebih menonjol daripada perkembangan eksternal.
Seperti pada semua usia, dalam perubahan fisik juga terdapat perbedaan individual. Perbedaan seks sangat jelas.Meskipun anak laki-laki memulai pertumbuhan pesatnya lebih lambat daripada anak perempuan, pertumbuhan laki-laki berlangsung lebih lama, sehingga pada saat matang biasanya laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan individual juga dipengaruhu oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat memiliki bahu lebih lebar, tungkai kaki lebih ramping. Secara singkat, Muss membuat urutan perubahan-perubahan fisik pada remaja sebagai berikut:


Perempuan
Laki-laki
1.  Pertumbuhan tulang-tulang
2.  Pertumbuhan payudara
3.  Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap dikemaluan
4.  Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yag maksimal setiap tahunnya
5.  Haid
6.  Tumbuh bulu-bulu ketiak
1.  Pertumbuhan tulang-tulang
2.  Testis membesar
3.  Awal perubahan suara
4.  Ejakulasi
5.  Pertumbuhan tinggi badan
6.  Tumbuh jenggot, dan kumis
7.  Tumbuh bulu ketiak
8.  Akhir perubahan suara
9.  Tumbuh bulu didada

a.    Perubahan Eksternal :
a)    Tinggi
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia 17 dan 18 tahun, dan rata-rata anak laki-laki 18 dan 19 tahun. Anak yang pada masa bayi diberi imunisasi biasanya lebih tinggi.
b)   Berat
Pertumbuhan berat badan bertambah seiring dengan tinggi badan. Tetapi berat badan sekarang mengarah ke bagian-bagian badan yang kurang atau bahkan tidak ada lemak sama sekali.
c)    Poporsi Tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik, seperti badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang.
d)   Organ Seks (karakteristik seks primer)
Adalah organ yang berkaitan langsung dengan reproduksi, yang membesar dan matang sepanjang masa remaja.Pada wanita, organ reproduksi adalah indung telur, tuba falopi, uterus, dan vagina; pada pria, terdapat testis, penis, skrotum, seminal vesicle, dan kelenjar prostat.Baik organ seks pria maupun wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja akhir, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.Pada anak laki-laki, sinyal pertama pubertas adalah pertumbuhan testis dan skrotum.Pada anak perempuan, terjadinya menstruasi.
e)    Ciri-ciri Seks Primer dan Sekunder
Yaitu sinyal fisiologis kematangan seksual yang tidak berkaitan dengan organ seks.Misalnya, payudara wanita, dan lebar bahu pada pria. Karakteristik seks sekunder lainnya adalah perubahan suara dan tekstur kulit, perkembangan muscular, dan pertumbuhan pubic, rambut wajah, ketiak, dan tubuh.

b.    Perubahan Internal :
a)   Sistem Pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi berbentuk pipa, usus bertambah panjang dan bertambah besar, otot-otot di perut dan dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.
b)   Sistem Peredaran Darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia 17 atau 18, beratnya 12 kali lipat berat waktu lahir, panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.
c)    Sistem Pernapasan
Kapasitas paru-paru anak permpuan hampir matang pada usia 17 thun;
d)   Sistem Endrokin
Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan ketidak seimbangan sementara dari seluruh sistem endokrin pada masa awal masa puber.Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa.
e)    Jaringan Tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18. Jaringan selain tulang terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot.


5.      Perkembangan Kognitif Masa Remaja
1.      Aspek dari Kematangan Kognitif
 Walaupun masa remaja memiliki banyak resiko, kebanyakan remaja dapat melewati masa ini dengan matang. Perkembangan kognitif mereka juga terus berlanjut. Remaja tidak hanya berpenampilan berbeda dengan anak-anak tetapi cara berpikir juga berbeda. Walaupun mungkin cara berpikir belum matang, banyak yang mampu untuk berpikir secara abstrak dan memiliki penilaian moral yang canggih serta dapat merencanakan masa depan dengan lebih realistis.

A. Tahap Operasional Formal dari Piaget
Tahap operasional formal merupakan tahap keempat dan terakhir dari teori perkembangan kognitif oleh Piaget, yang dicirikan oleh kemampuan mereka untuk berpikir secara abstrak. Tahap ini dimulai dari usia 11 sampai 15 tahun. Pada tahap ini, remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman nyata dan konkret sebagai landasan berfikirnya.
Namun, remaja sudah mampu untuk membayangkan suatu situasi yang dapat ia jalani atau berupa kemungkinan yang dapat terjadi nantinya pada mereka. Kualitas abstrak dari pemikiran remaja pada tahap ini dapat di buktikan lewat pemecahan masalah mereka secara verbal. Selain pemikiran yang abstrak, remaja pada tahap ini muncul juga pemikiran yang penuh dengan idealism dan kemungkinan-kemungkinan.
Hypothetical-Deductive Reasoning.
Hypothetical-deductive reasoning membuat remaja dapat mengembangkan hipotesis dan mendesain eksperimen untuk membuktikannya, serta memberikan perangkat untuk memecahkan masalah.
Yang membuat perubahan dari tahap operasional konkret jadi operasi formal adalah adanya kombinasi kematangan otak dan perluasan peluang lingkungan. Walaupun perkembangan neurologis remaja telah cukup untuk melakukan penalaran formal, mereka hanya dapat mencapainya dengan stimulus yang tepat. Salah satu contohnya adalah melalui usaha kooperatif.

2.      Tahap awal operasional formal
Tahap ini dimulai dari usia 11 sampai 15 tahun, dimana terjadi peningkatan kemampuan remaja untuk berfikir dengan menggunakan hipotesis membuat mereka mampu berfikir bebas dengan kemungkinan tak terbatas. Selain itu, cara berfikir operasional formal mereka juga dapat mengalahkan realitas, dan terlalu banyak terjadi asimilasi sehingga dunia dipersepsi secara subjektif dan idealistis. Tahap operasional formal ini terdiri dari empat aspek utama dari pemikiran manusia itu sendiri, yaitu pemikiran abstrak, logika, metakognisi, dan penalaran hipotesis.
Pemikiran Abstrak
Pemikiran yang memungkinkan suatu realitas untuk diwakili oleh symbol-simbol yang dapat dimanipulasi secara mental. Demokrasi merupakan salah satu bentuk dari tindakan yang abstrak. Pemikiran abstrak ini dapat juga dilakukan pada proses pembelajaran, yakni dengan memungkinkan realitas tersebut diwakilkan oleh suatu symbol-simbol.
• Logika
Berfikir berdasarkan logika dapat membuat remaja hidup lebih secara teratur dan sistematis.
• Metakognisi  
Metakognisi ini memiliki konsep “berfikir tentang pemikiran”, yakni konsep untuk mampu menganalisis pemikiran dan hal yang mereka lakukan sendiri untuk dapat menumbuhkan rasa percaya diri serta dapat menjadi motivasi bagi diri mereka sendiri.
• Penalaran hipotesis
Kemampuan untuk menarik kesimpulan sendiri terhadap suatu kejadian yang terjadi berdasarkan hipotesis yang pernah dibuatnya. Dengan penalaran hipotesis ini juga dapat memungkinkan remaja berfikir lebih focus terhadap masalah yang dialaminya bahkan dengan kenyataan yang sekedarnya.

2.      Tahap akhir Operasional Formal
Tahap ini dimulai dari usia 15 sampai 19 tahun yang merupakan pase kedua operasional formal, dan merupakan pengembangan dari logika proporsional, pola pemikiranindividu, dan kemampuan untuk memahami sistem simbol sehingga dapat menyeimbangkan initelektualnya.
• Pemikiran Abstrak
Pada tahapan ini, remaja semakin memungkinkan untuk  menangani masalah system symbol terhadap realitas kehidupan, bahkan mereka juga mampu untuk menemukan masalah yang ada. Banyak pemuda sekarang, menjadi mampu memahami kartun politik dan simbolisme agama.
Logika
Remaja jauh lebih mengetahui tujuan dari disiplin dan mampu menguasai kondisi disiplin tersebut, sehingga tahap ini disebut juga sebagai logika proporsional.
• Metakognisi
Pada tahap ini mereka menjadi lebih baik untuk menganalisis proses berpikir mereka saat bekerja melalui masalah. Remaja mulai melihat tren atau pola dalam pemikiran merekadan belajar untuk melakukan kompensasi bagi dirinya.
• Penalaran Hipotesis
Pada tahap ini, banyak remaja mampu berpikir seperti seorang ilmuwan. Mereka mampu membuat rencana untuk memecahkan masalah, cenderung untuk menyelidiki lebih dari satu sumber data, dan dapat memikirkan beberapa kemungkinan penyebab. Mereka jugamampu melakukan studi dengan sedikit atau tanpa prasangka terhadap hasilnya dan mampumenerapkan aturan logika, sehingga lebih baik dalam mencari solusi pada masalah mereka.

  2.    Karakteristik ketidakmatangan pemikiran remaja
Dalam beberapa hal pemikiran remaja tampaknya belum matang. Mereka tampak kasar terhadap orang dewasa, memiliki masalah dalam mengambil keputusan, dan sering berperilaku seakan-akan dunia milik mereka. Menurut psikolog David Elkind (1984, 1998), ketidakmatangan pemikiran remaja tersebut berasal dari kurangnya pengalaman remaja dalam usaha untuk berpikir formal. Cara berpikir ini kemudian mengubah cara mereka memandang dirinya sendiri dan dunia mereka, mereka tidak terbiasa dengan perubahan tubuh mereka, dan terkadang merasa canggung dalam mengguanakannya. ketika mereka mencoba kekuatan baru mereka, mereka kadang-kadang tersandung, seperti bayi belajar berjalan.
Ketidakmatangan berpikir ini dapat dilihat dari enam karakteristik, yaitu:
1.      Idealisme dan mudah mengkritik, saat remaja memimpikan dunia yang ideal,mereka menyadari seberapa berbedanya dunia nyata dengan yang mereka mimpikan dimana mereka menganggap orang dewasa yang bertanggung jawabatas keberadaannya, tidak sesuai dengan yang mereka pikirkan. Mereka yakin bahwamereka tahu lebih baik daripada orang dewasa bagaimana menjalankan dunia, pada masa ini mereka sering mencari-cari kesalahan orang tua mereka.

2.      Sifat argumentatif, remaja terus-menerus mencari peluang untuk mencoba dan menunjukkan kemampuan penalaran mereka. mereka sering menjadi argumentatifkarena mereka menyusun fakta dan logika untuk membangun kasus untuk, misalnya, tidur lebih laryt dibandingkan dengan pendapat orang tua mereka.

3.      Sulit untuk memutuskan sesuatu, Remaja dapat memikirkan banyak alternatif di pikirannya dalam waktu yang sama, tetapi kurang memiliki strategi yang efektif untuk memilih. Mereka mungkin bermasalah untuk mengambil keputusan, bahkan tentang hal-hal ynag sederhana, misalnya pergi ke mall dengan teman atau mengerjakan tugas sekolah.

4.      Kemunafikan yang tampak nyata, remaja muda sering tidak mengenali perbedaan antara mengekspresikan ideal, seperti konservasi energi, dan membuat pengorbanan yang diperlukan untuk hidup sampai itu, seperti mengurangi mengendarai mobil.    

5.      Kesadaran diri, remaja yang berada pada tahap operasional formal dapat berpikir tentang berpikir-baik mengenai mereka sendiri maupun orang lain.Namun, dalam keasyikan mereka dengan kondisi mental mereka sendiri, remajasering menganggap orang lain berpikiran sama dengan meraka: diri mereka sendiri.seorang gadis remajamungkin malu jika dia memakai "gaun yang salah" ke pesta, mereka berpikir bahwa semua orang pasti melihat kearahnya dengan pandangan ragu. Elkind menyebut kesadaran diri ini sebagai imaginery audience,konseptualisasi "pengamat" yang peduli dengan pikiran dan perilaku remaja tersebut seperti dirinya sendiri. fantasi imajiney audience sangat kuat pada remaja awal tetapi berlanjut ke tingkat yang lebih rendah ke dalam kehidupan dewasa.

6.      Keistimewaan dan kekuatan, Elkind menggunakan istilah dari personal fableuntuk menunjukkan kepercayaan oleh remaja bahwa mereka istimewa, itupengalaman mereka adalah unik, dan bahwa mereka tidak tunduk pada aturan-aturan yang mengatur seluruh dunia (belum ada yang seperti sangat cinta sebagaisaya). menurut Elkind, bentuk khusus egosentrisme mendasari banyak perilakuberisiko yang merusak diri. seperti imaginary audience, personal fable berlanjut samapi dewasa.

3.      Perubahan pemrosesan informasi pada remaja
Terdapat dua kategori perubahan pada kognisi remaja, yaitu:
1.      Perubahan struktural
Perubahaan struktural pada remaja meliputi (1) perubahan kapasitas pemrosesan informasi dan (2) peningkatan jumlah pengetahuan yang disimpan di long term memori.
Informasi yang disimpan di long term memori terdiri dari: deklarative, procedural, atau conceptual. Pengetahuan deklarative berisi tentang semua pengetahuan faktual yang diperoleh seseorang, misalnya mengetahui bahwa Jakarta adalah ibukota Indonesia. Pengetahuan procedural berisi semua skill atau keahlian yang diperoleh seseorang, misalnya pengetahuan tentang bagaimana cara mengendarai sepeda motor. Pengetahuan conceptual berisi tentang pemahaman mengapa suatu kejadian terjadi, misalanya mengapa persamaan aljabar tetap benar jika jumlah yang sama yang ditambahkan atau disubtitusikan dari kedua belah pihak.

2.      Perubahan fungsional
Proses memperoleh, menangani dan menyimpan informasi merupakan aspek fungsional dari kognisi. Diantaranya termasuk belajar, mengingat, menalar dan pembuatan keputusan. Penalaran matematika, spasial, dan sains merupakan beberapa proses fungsional yang cenderung berubah saat remaja.
Remaja secara bertahap menjadi lebih mahir dalam mengambil keputusan, menjelaskan alasannya, dan menguji hipotesis, terutama jika hal tersebut dikenal dan benar.
Perubahan pengamatan dalam situasi laboratorium tidak selalu membawa kekehidupan nyata, di mana perilaku sebagian tergantung pada motivasi dan regulasi emosi. Banyak remaja ynag lebih tua membuat keputusan yang miris mengenai dunia nyata dibandingkan dengan remaja yang lebih muda.
4.      Perkembangan bahasa
Pada usia 16-18 tahun, orang-orang pada umumnya menguasai sekitar 80,000 kata (Owens, 1996). Dengan munculnya pemikiran formal, remaja dapat mendefinisikan beberapa kata abstrak seperti cinta, keadilan, dan kebijaksanaan. Mereka lebih sering menggunakan kata-kata seperti bagaimanapun, oleh karena itu, sebalinya dan kemungkinan untuk menyatakan relasi logis antara dua kalimat. Mereka menjadi lebih peka terhadap kata sebagai simbol yang bisa memiliki makna yang lebih dari satu. Mereka juga menggunakan ironi,permainan kata, metafora (Owens, 1996).
 Remaja juga menjadi lebih ahli dalam pengambilan perspektif social, yaitu kemampuan untuk memahamii sudut pandang dan level pengetahuan orang lain serta berbicara dengan sesuai. Kemampuan ini adalah esensial untuk ikut serta dalam suatu percakapan. Sadar akan audience mereka, remaja berbicara dalam bahasa ynag berbeda antara teman sebaya dan yang lebih tua (Owens, 1996). Bahasa pergaulan remaja merupakan bagian dari proses perkembangan identitas pribadi yang terpisah dari orang tua dan dunia orang dewasa.
      6.    Perkembangan Moral Masa Remaja
Salah satu pandangan yang cukup propokatif mengenai perkembangan moral dikemukakan oleh Lawrence Kholberg.Kohlberg melihat remaja sebagai suatu masa yang sangat penting dalam perkembangan penalaran moral dikarenakan perubahan kognisi seperti yang dikemukakan oleh Piaget. Kholberg mempelajari penalaran moral dengan meminta para remaja untuk memecahkan masalah dilema moral.  Dilema moralmerupakan cerita yang dibuat Kholberg untuk mencari tahu sifat dasar panalaran moral. Berikut adalah masalah dilemma moral yang sangat populer yaitu ‘Heinz Dilemma’ :
Seorang wanita yang tengah mendekati kematiannya karena penyakit kanker. Seorang apoteker menemukan suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkan dirinya. Untuk membuat obat tersebut dibutuhkan biaya yang sangat tinggi, oleh karena itu si apoteker meminta bayaran 10 kali lipat dari harga yang sebenarnya. Apoteker itu  memerlukan $2,00 untuk membuat obat tersebut lalu ia meminta bayaran $2,000 untuk dosis yang kecil. Suami wanita yang sakit itu, Heinz, mendatangi semua orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi Heinz hanya memperolah $1,000. Heinz mengatakan kepada apoteker tersebut bahwa istrinya sedang sekarat dan memintanya agar bersedia menjual obat tersebut dengan harga yang lebih murah atau memperbolehkan dirinya membayar belakangan. Sang apoteker menolak, dan mengatakan “ saya telah menemukan obat tersebut dan saya akan menghasilkan uang dari obat tersebut ”. Heinz jadi putus asa dan masuk ke toko obat tersebut dan mencuri obat yang dibutuhkan istrinya.
Dilemma yang dialami Heinz adalah contoh pendekatan mengenai perkembangan moral yang paling popular. Dari cerita tersebut para interviewee dengan usia yang berbeda-beda diberikan pertanyaan mengenai dilemma moral yang dialami Heinz. Dari jawaban-jawaban yang diperolah, Kholberg menyimpulkan bahwa cara seseorang melihat persoalan tentang moral mencerminkan perkembangan kognitifnya.
Kholberg Levels and Stages
Perkembangan moral menurut teori Kholberg terbagi dalam tiga tingkatan, yang setiap tingkatan terdiri dari dua tahapan.
A.    Level I : Preconventional Morality
Pada level ini, individu cenderung bertindak dibawah kendali/control eksternal. Dimana anak mematuhi peraturan untuk menjauhi hukuman atau untuk mendapatkan hadiah atau kepuasan. Level ini merupakan ciri umum pada anak usia 4 hingga 10 tahun.
o   Tahap 1 : Punishment and obedience orientation
Contoh : Jhony mematuhi gurunya untuk tidak ribut agar ia tidak dihukum
o   Tahap 2 : instrumental purpose and exchange
Pada tahapan ini pemikiran moral didasarkan pada hadiah atau tujuan peribadi. Anak akan lebih mematuhi suatu aturan jika hal tersebut menguntungkan mereka.
Contoh : Jhony menggaruk punggung Dodi, Dodi juga melakukan hal yang sama terhadap Jhony.
B.     Level II : Conventional Morality
Pada tingkatan ini, individu ingin mematuhi  atau memenuhi ekspektasi yang berlaku di masyarakat dan bersikap adil terhadap semua orang. Mereka juga cenderung untuk bersikap baik, menyenangkan orang lain dan memenuhi aturan di masyarakat.
o   Tahap 3 :Maintaining mutual relation
Adalah tahapan dimana anak ingin menyenangkan dan membantu orang lain, bisa menilai maksud orang lain, dan bisa mengembangkan ide mereka sendiri mengenai ‘good boy dan nice girl morality’.
o   Tahap 4 :Social morality system
Adalah tahap dimana seseorang lebih memerhatikan penilaian moral berdasarkan pemahaman terhadap aturan dan tugas social mereka, menunjukkan kepatuhan mereka terhadap otoritas yang lebih tinggi, dan mempertahankan aturan social.
C.     Level III : Postconventional Morality
Adalah tingkatan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kholberg, dimana moralitas diinternalisasi sepenuhnya dan tidak lagi didasarkan pada standar moral orang lain, tetapi mereka membuat keputusan atau penilaian sendiri terhadap dasar kebenaran, keadilan, dan hukum. Umumnya, individu belum mencapai tingkat penalaran moral ini sampai nanti ia mencapai usia dewasa awal atau dewasa.
o   Tahap 5 :Morality contract atau social contract
Individu membuat perjanjian atau kontrak dan mencoba untuk menepatinya. Cenderung menjaga agar tidak menggangu keinginan dan hak orang lain.
o   Tahap 6 :Universal principles atau morality of universal ethical
Pada tahapan ini, individu sudah membentuk  standar  moral yang didasarkan pada hukum dan hak manusia secara universal. Maka ketika dihadapkan pada hukum dan kata hati, mereka akan mengikuti kata hatinya, walaupun keadaan ini dapat memunculkan resiko pada dirinya.
Kholberg percaya bahwa seluruh level dan stage diatas terjadi secara berurutan sesuai dengan usia. Sebelum mencapai usia 9 tahun, kebanyakan anak akan mengalami prakonvensional dalam menghadapi dilema moral. Pada awal remaja, penalaran akan dilakukan dengan cara yang lebih konvensional, dan kebanyakan penalaran pada masa remaja berada pada tahap 3, dengan menunjukkan adanya ciri-ciri pada tahap 2 dan 4. Kemudian pada masa awal dewasa, sejumlah kecil individu berpikir dengan cara postkonvensional
Selain itu, Mitchell telah meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu:
1)      Pandangan moral individu semakin lama semakin abstrak dan kurang konkret
2)      Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah.
3)      Penilaian moral menjadi semakin kognitif dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4)      Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5)      Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal
Remaja dapat memandang masalahnya dari berbagai sisi dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan. Remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proporsi
Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa, yaitu:
1)   Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum
2)   Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai kode prilaku
3)   Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri.
Dampak dari perkembangan moral yang dialami oleh remaja sebagai berikut :
  1. Mempunyai standar moral yang diakui dan diyakini dirinya dan kelompoknya
  2. Merasa bersalah bila menyadari perilakunya tidak sesuai dengan standar moral yang diyakininya
  3. Merasa malu bila sadar terhadap penilaian buruk kelompoknya

7.      Perkembangan Emosi Masa Remaja
1.    Perkembangan Emosi Remaja Menurut Ali, M dan Asrori, M (2004, h.67-69)
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, social, dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur tiga belas tahun sampai umur delapan belas tahun, yaitu masa anak duduk dibangku sekolah menengah. Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga atau lingkungannya. Remaja memiliki energy yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian.
2.      Bentuk-bentuk Emosi
Selama masa remaja, kondisi-kondisi yang membangkitkan emosi sangat berbeda-beda. Emosi terlibat dalam segala hal, di mana si remaja terlibat di dalamnya. Diantara lingkungan-lingkungan yang penting dalam membangkitkan emosi para remaja adalah semua hal yang bertentangan dengan atau yang menyinggung perasaan bangga akan dirinya, atau harapan-harapan yang ia tempatkan pada dirinya, atau hal-hal yang membangkitkan perasaan was-was mengenai dirinya.
a)      Cinta kasih sayang
Satu hal penting dari kehidupan emosional para remaja adalah kemampuan untuk memberi kasih sayangnya kepada orang lain. Kemampuan untuk memberi ini sama pentingnya dengan kemampuan untuk menerima.
Cinta remaja terjadi apabila mereka jatuh cinta terhadap lawan jenisnya dan mereka yakin bahwa cintanya itu adalah cinta sejati. Kadang-kadang remaja mengalihkan rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap orang tua, rumah, binatang piaraan. Perasaan untuk mencintai dan dicintai itu sangat penting bagi para remaja, nampak dalam hal kesetiaannya dan pembaktiannya terhadap gang nya. Keinginan untuk mengerjakan hal-hal yang idealistis juga merupakan usaha untuk mencari dan memberikan rasa cintanya.
Tidak ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. (Sunarto, 2002:152).
Kebutuhan akan kasih sayang dapat diekspresikan jika seseorang mencari pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, baik orang tua, teman dan orang dewasa lainnya. Kasih sayang akan sulit untuk dipuaskan pada suasana yang mobilitas tinggi. Kebutuhan akan kasih sayang dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan yang lain. Kasih sayang merupakan keadaan yang dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati, kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional (Yusuf , 2005:206)
Simpati dan merasakan perasaan orang lain telah mulai berkembang dalam usia remaja awal. Remaja berusaha bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya. Sikap penyesuaian diri (conform) dengan teman-teman sebaya selalu dipertahankan. Strang menyimpulkan konformitas adolescence seperti dalam berpakaian menunjukkan keinginan mereka untuk diterima masuk sebagai anggota (to belong) dan rasa takut mereka dari ketaksamaan atau terkucil
b)      Gembira dan bahagia
Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.
c)      Kemarahan dan Permusuhan
Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Perasaan marah pada remaja digunakan juga untuk menyatakan tuntutan dan minat-minatnya. Tapi kemudian melalui berbagai pengalamanlah yang menentukan pula rasa marah itu dinyatakan atau ditekan. Di dalam memahami rasa marah pada para remaja, adalah lebih mengidentifikasi apa yang menyebabkan kemarahannya daripada mengatakan mengapa sesuatu hal menjadi ia marah.
Penelitian Block (1937) menemukan bahwa banyak kondisi-kondisi di rumah yang menimbulkan marah para remaja yaitu antara lain peraturan tentang cara berpakaian, pengawasan yang ketat, perbedaan pendapat antara para remaj dan orang tua mengenai hal-hal yang benar (misalnya memakai lipstik). Pembatasan-pembatasan dalam berbagai hal juga disebut-sebut sebagai hal yang membangkitkan rasa marah.
Hal-hal lain yang menimbulkan marah para remaja adalah perlakuan-perlakuan dari orang tua, sifat-sifat dan kebiasaan orang tua (Scott,1940). Di tingkatan akademik, kritik yang tidak bijaksana dari orang tua, diperlakukan seperti anak kecil, pertentangan pendapat dengan orang tua, bentrok dengan saudara-saudara sebagai hal yang menimbulkan marah pada mereka (Williams,1950)
Mereka merasa canggung akan pertambahan tinggi badan yang dirasa aneh dan mengganggu sehingga mudah tersinggung kesal hati, dan tertekan, ingin marah. Dalam keadaan emosi yang belum stabil ini celaan atau kritikan dari lingkungan seringkali ditanggapi secara sungguh-sungguh dan sering ditafsirkan sebagai ejekan atau meremehkannya. Akibatnya mereka sering bersikap antipati dan melawan. Bila lingkungan keluarga, orang tua dan sekolah mengabaikan keadaan emosi remaja, misalnya anak-anak yang tidak disukai karena tampangnya kurang menguntungkan, kurang cerdas, sehingga melihat dengan sebelah mata dan sinis, biasanya remaja tersebut menjurus pada perilaku yang maldjusment dan sering pada tindakan delinkuency.
d)     Frustasi dan Dukacita
Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.
Rasa sedih merupakan sebagian emosi yang sangat menonjol dalam masa remaja awal. Remaja sangat peka terhadap ejekan-ejakan yang dilontarkan kepada diri mereka. Kesedihan yang sangat akan muncul, jika ejekan-ejekan itu datang dari teman-teman sebaya, terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya. Penampakan rasa gembira ini memang berbeda di antara para remaja yang barangkali dipengaruhi oleh tipe kepribadian mereka masing-masing. Bagi remaja yang ekstrovert, rasa gembira akan lebih nampak dibandingkan dengan remaja yang introvert. Perasaan-perasaan gembira yang didapat si remaja akibat penghargaan terhadap dirinya dan hasil usahanya (prestasinya) memegang peranan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri mereka.
Perasaan yang sangat ditakuti atau frustasi oleh remaja di antaranya tercermin pula bahwa mereka sangat takut terkucil atau terisolir dari kelompoknya. Hal demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap-perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan sumbangan yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Perasaan dibutuhkan dan berharga menimbulkan kesukarelaannya untuk menyumbangkan sesuatu kepada teman sepergaulannya.
Perasaan yang sangat ditakuti oleh remaja di antaranya tercermin pula bahwa mereka sangat takut terkucil atau terisolir dari kelompoknya. Hal demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap-perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan sumbangan yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Perasaan dibutuhkan dan berharga menimbulkan kesukarelaannya untuk menyumbangkan sesuatu kepada teman sepergaulannya.
Dalam hal emosi yang negatif umumnya remaja belum dapat mengontrolnya dengan baik. Sebagian remaja dalam bertingkah laku sangat dikuasai oleh emosinya. Kebiasaan remaja (dengan latihan) menguasai emosi-emosi yang negatif dapat membuat mereka sanggup mengontrol emosi dalam banyak situasi. Kesempurnaan dalam kontrol emosi umumnya dicapai oleh remaja dalam tahapan remaja akhir. Penguasaan emosi yang terlatih, remaja dapat mengendalikan emosinya dapat mendatangkan kebahagiaan bagi remaja.
Hurlock berpendapat bahwa pemuda-pemuda dapat menghilangkan unek-unek atau kekuatan-kekuatan yang ditimbulkan oleh emosi yang ada dengan cara mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan emosi-emosi itu dengan seseorang yang dipercayainya. Menghilangkan kekuatan-kekuatan emosi yang terpendam tersebut disebut emotional catharsis. Cara-cara yang ditempuh dalam usaha menemukan atau membongkar kekuatan emosi yang terpendam itu dapat dilakukan dengan cara bermain, bekerja dan lebih baik lagi adalah dengan mengatakannya kepada seseorang yang dapat menunjukkan gambaran masalah-masalah yang dihadapi remaja yang bersangkutan
Ada berbagai macam emosi yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, juga dengan variasinya. Sejumlah teoritikus mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar yaitu(Ali, M & Ansori, M2004, h.63):
·       Amarah
Meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, permusuhan, tindakan kekerasan, dan kebencian patologis.
·       Kesedihan
Meliputi pedih,sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, ditolsk, putus asa, dan depresi.
·       Takut
Meliputi cemas, takut, gugup, khawatir,was-was, perasaan takut sekali, sedih, tidak tenang, ngeri, phobia, dan waspada.
·       Kenikmatan
Meliputi gembira, bahagia, riang, senang sekali, dan mania.
·       Cinta
Meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kasih sayang, kebaikan hati, hormat, dan kasmaran.
·       Terkejut
Meliputi terkesiap, takjub, dan terpana
·       Jengkel
Meliputi jijik, tidak suka, mual, muak, benci, hina, dan tidak suka.
·       Malu
Meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, aib, dan hati hancur lebur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Emosi
Emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1.    Pematangan
Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang belum kita mengerti, memperhatikan suatu rangsangan, yang lebih lama, memutuskan ketegangan emosi pada suatu objek. Dengan demikian kita menjadi lebih reaktif terhadap rangsanganyang tadinya tidak mempengaruhi kita pada usia yang lebih muda.
2.    Belajar
Pengalaman belajar menentukan reaksi potensial mana yang akan digunakan untuk menyatakan kemarahan. Belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan
Perkembangan Emosional Pada Remaja
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas perkembangan emosi yang tinggi akibat perubhan fisik dan kelenjar di masa puber. Sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan emosi sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilku dan harapan social yang baru terhadap diriny. Meskipun emosi remaja serinkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional (Hurlock, 1980, h.213). pada usia remajaawal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitive dan reaktif, yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi social, dan cenderung temperamenl. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.
Hurlock menyatakan (1980, h.213) pola emosi pada remaja sama dengan pola emosi ada masa kanak-kanak. Perbedaaanya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan khususnya pada pengendalian latihan indivdu terhadap ungkapan emosi mereka , misalnya perlakuan “anak kecil” membuat remaja sangat marah, dbandingakan dengan hal-hal lain. Remaja tidak lai mengungkapkan rasa amarahnya dengan cara yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu atau tidak mau berbicara. Ia tidak mengeluh atau menyesali diri seperti yang dilakukan anak-anak,. Namun terkadang dalam beberapa kasus seorang remaja juga dapat mengalami regresi yaitu bertingkah laku seperti anak kecil, minta perhatian dengan merajk atau marah-marah. Karena dengan tingahlakunya diharapkan orang lai akan menghiburnya atau lebih memperhatikannya.
Seringkali orang beranggapan bahwa emosi remaja cenderung menimbulkan hal-hal negative, namun jika ditinjau lebih lanjut ternyata memiliki beberapa fungsi penting. Empat fungsi emosi  (Coleman dan Hammen, 1974, h.462)
1.    Pembangkit energi
Emosi dapat membangkitkan dan memobilisasi energy kita. Tanpa emosi kita tidak akan dapat merasa, mengalami, bereaksi, dan bertindak terhadap berbagai situasi yang kita hadapi.
2.      Pembawa informasi
Kita dapat mengetahui bagaimana keadaan diri kita melalui emosi kita. Ketika marah, kita tahu kita dihambat atau diganggu; sedih berarti kehilangan sesuatu yang kita senangi; bahagia berarti kita memperoleh apa yang kita senangi atau berhasil menghindari hal yang tidak kita senangi
3.      Pembawa pesan dalam komunikasi
Komunikasi dengan orang lain dapat berlangsung dengan baik jika masing-masing pihak mampu mempelajari dan memahami bahasa tubuh lawan bicara sebagai ekspresi emosi.
4.      Sumber informasi tentang keberhasilan kita
Keberhasilan kita dalam mencapai sesuatu dapat kita ekspresikan dengan rasa senang atau gembira. Sedang kegagalan dapat kita ungkapkan dengan kesedihan.
Mencapai kematangan emosi merupakan yugas-tugas perkembangan yang cukup sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutamma lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apalagi lingkungan tersebut cukup kondusif dalam arti kondisinya diwarnai oleh hubungan yang harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosi. Sebaliknya, apabila kurang dipersiapkan untuk memahami pesan-pesannya dan mendapatkan perhatian yang tidak sesuai dari orang tua adan dukungan teman sebaya, mereka cenderung aan mengalami kecemasan, perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional
Kematangan emosi pada remaja dapat dilihat dari :
1.    Tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, tetapi menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengngkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih diterima.
2.    Remaja mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional
3.    Memberikan emosi yang stabil, tidak berubah dari satu emosi/suasana hati ke suasana hati yang lain.
Untuk mencapai kematangan emosi remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang  situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional dengan cara terbuka terhadap perasaan dan masalahnya pada orang lain. Selain itu remaja juga harus belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis.
Perkembangan emosi seseorang pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lau. Perkembangan emosi remaja juga demikian halnya. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari dsering kita lihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresi, rasa takut berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri. Sejumlah factor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut :
1.    Perubahan jasmani
Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima perbahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perbahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat.
2.      Perubahan pola interaksi dengan orang tua
Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada pula yang dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengarh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja.
Pemberontakan terhadap orang tua menunjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga menjadi marah, mereka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan pengertian yang merekainginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja.
3.      Perubahan interaksi dengan teman sebaya
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivits bersama dengan embentuk semacam geng. Interaksi antar anggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Pembentukan kelompok dalam bentuk geng seperti ini sebaiknya diusahakan terjadi pada masa remaja awal saja karena biasanya bertujuan positif, yakni untuk memenuhi minat mereka bersama. Usahakan dapat menghindarkan pembentukan kelompok geng itu ketika sudah memasuki masa remaja tengah dan remaja akhir. Pada masa ini para anggotanya biasanya membutuhkan teman-teman untuk melawan otoritas atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama.
Factor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Pada masa remaja tengah, biasanya remaja benr-benar mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gengguan emosi pada remaja jika tidak diikuti bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira atau bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta. Gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri.
4.      Perubahan pandangan luar
Faktor penting yang dapat memperngaruhi perembangan emosi remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar dirinya. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut :
1.    Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang-kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan dalam diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.
2.    Dunia luar atau masyarakat masih menetapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan remaja perempuan. Kalau remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat predikat popular dan mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya, apabila remaja putrid memiliki banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabkan remaja beringkahlaku emosional.
3.    Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak beranggung jawab, yaitu denagn cara melibatkan remaja tersebut kedalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar niali-nilai moral. Misalnya, penyalahgunaan obat terlarang, minum minuman keras, serta tindak criminal dn kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat merugikan perkembangan emosional remaja.
4.    Perubahan interaksi dengan sekolah
pada masa kanak-kanak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka, karena selain tokoh intelektual, guru juga meruakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategisbila digunakan untuk pengembangan emosi anak melaui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.
Namun demikian, tidak jarang terjadi bahwa mereka figure sebagai tokoh tersebut, guru memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada para peserta didiknya. Peristiwa semacam ini sering tidak disadari oleh para guru bahwa dengan ancaman-ancaman itu sebenrnya dapat menambah permusuhan saja dari anak-anak setelah mereka menginjak masa remaja. Cara-cara seperti ini akan memberikan stimulusnnegatif bagi perkembangan emosi anak.
Dalam pembaran, para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini tentunya tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya akan muncul jka mereka sudah dewasa. Sebab, idealism yang dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan mereka sampai memasuki masa dewasa.
8. Perkembangan Sosial Masa Remaja
   1. Pengertian Perkembangan Sosial
Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya.
Pada dasarnya pribadi manusia tak sanggup taksanggup hidup seorang diri tanpa lingkungan psikis dan rohaniahnya walaupun secara biologis-fisiologis ia dapat mempertahankan dirinya sendiri.
Hubungan sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga melakukan tahap perkembangan sosial.Pengertian perkembangan sosial adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.
       2.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
  Remaja yang dalam masa mencari dan ingin menentukan jati dirinya memiliki sikap yang terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Mereka belum memahami benar tentang norma-norma sosial yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya dapat menimbulkan hubungan social yang kuarang serasi, karena mereka sukar untuk menerima norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat. Sikap menentang dan sikap canggung dalam pergaulan akan merugikan kedua belah pihak. Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pengembangan hubungan social remaja yang diawali dari lingkungan keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat.
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
a.    Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan anak.
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.[11]
b.    Kematangan Anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula  menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
c.    Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya. Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
d.        Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan  pendidikan(sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
e.    Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan    sosial    anak.
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
3.      Proses Sosialisasi
Ada tiga proses sosialisasi yaitu:
1.      Belajar berprilaku yang dapat diterima secara sosial
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang prilaku yang dapat diterima.Untuk dapat bermasyarakat anak tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima,tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilaku dengan patokan yang dapat diterima.
2.      Memainkan peran yang dapat diterima
Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi.Sebagai contoh, ada yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta bagi guru dan murid.
3.      Perkembangan sikap social
Untuk bermasyarakat/bergaul dengan baik anak-anak harusmenyukai orang dan aktivitas sosial.Jika mereka dapat melakukannya mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagai anggota kelompoksosial tempat mereka menggabungkan diri.
4.    Perkembangan Sosial Remaja 
Dalam hidup bermasyarakat remaja  dituntut bersosialisasi. Dalam masa Remaja cakrawala interaksi sosial telah meluas dan kompleks.Selain berkomunikasi dengan keluarga juga dengan sekolah dan masyarakat umum yang terdiri atas anak-anak maupun orang dewasa dan teman sebaya pada khususnya.Bersamaan dengan itu remaja mulai memperhatikan mengenai norma-norma yang berlaku serta melakukan penyesuaian diri kedalam lingkungan sosial.
Pada mulanya saat melakukan interaksi sosial remaja  meninggalkan rumah dan bergaul secara lebih luas dalam lingkungan sosialnya.Pergaulan meluas mulai dari terbentuknya kelompok-kelompok teman sebaya (peer group) sebagai suatu wadah penyesuaian.Didalamnya timbul persahabatan yang merupakan ciri khas pertama dan sifat interaksinya dalam pergaulan.
Sangat penting dalam pergaulan remaja ini adalah di dalamnya remaja mendapat pengaruh yang kuat dari teman sebaya.Ini dapat dilihat dari remaja yangmengalami perubahan tingkah laku sebagai salah satu usaha penyesuaian.
Dan dibawah ini merupakan kelompok-kelompok sosial pada remaja:
1.      Kelompok Chums
Yaitu sekelompok individu dengan ikatan persahabatan yang kuat. Jumlah anggota biasanya terdiri atas 2-3 orang dengan jenis kelamin sama, mempunyai minat, kemampuan serta kemauan-kemauan yang hampir  sama. Karena beberapa hal yang mirip  itu mereka sangat akrab meskipun dapat terjadi perselisihan, namun secara mudah dapat dilupakan dan akrab lagi.
2.      Kelompok Cliques
Yaitu sekelompok remaja yang biasanya terdiri atas 4-5 orang yang mempunyai minat, kemampuan, dan kemauan yang relatif sama.
Baik Kelompok Chums maupun Kelompok Cliques ini pada mulanya terdiri atas anak-anak remaja awal. Namun pada Kelompok Cliques mulai beralih terdiri atas campuran dan makin kuat bagi remaja akhir. Aktivitas mereka berupa: rekreasi bersama, pesta, nonton film, nonton pameran, saling menelpon dan jenisnya yang menyita waktu dan kadang-kadang merupakan penyebab terjadinya pertentangan dengan orang tua atau orang lain disekitarnya.
3.      Kelompok Crowds
Terdiri atas banyak anggota, berarti terdiri atas sekelompok remaja yang lebih besar dari kelompok cliques. Terdiri atas jenis kelamin campuran baik laki-laki maupun perempuan. Demikian pula kemampuan, minat, dan kemauannya berbeda. Para anggotanya sangat ingin diterima dan mendapat pengakuan crowds itu.
4.      Kelompok yang diorganisir
Umumnya yang mengorganisir kelompok ini adalah orang dewasa. Misalnya organisasi sekolah,yayasan agama dan sebagainya. Orang dewasa membentk organisasi kelompok remaja ini biasanya dengan kesadaran bahwa remaja membutuhkan penyesuaian pribadi dan sosial dalam stu wadah. Keanggotaanya bebas maksudnya mungkin sudah menjadi kelompok persahabatan yang tak terorganisir.
5.      Kelompok Gangs
Keanggotan gangs biasanya berasal  dari kelompok-kelompok yang menolaknya. Berarti mereka gagal ke dalam kelompok karena ditolak, tak puas atau tak dapat menyesuaikan diri. Sesuai dengan keinginan dan kadang-kadang mengganggu atau balas dendam kepada kelompok lain atau terdahulu. Meskipun demikian gangs itu mempunyai corak yang cenderung kalem dan agresif.
Pada usia remaja ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).
Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini dilakukan agar remaja mempunyai sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Perasaan bersahabat merupakan ciri khas dan sifat interaksi remaja dan kelompoknya. Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan perilaku yang secara moral dan agama dapat dipertanggung jawabkan maka kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan perilaku seperti kelompoknya tersebut.
8.      Perkembangan Kepribadian Masa Remaja
Di dalam kepribadian Remaja,ada dua faktor tetap yang mempengaruhi.Yaitu faktor luar (external) dan faktor dalam (internal).Tetapi karena isi faktor luar selalu berubah keadaanya dan penerimaan pengaruh external oleh faktor internal itu juga berubah sebagai akibat perkembanganya.
1.      FAKTOR AJAR, FAKTOR LUAR (EXTERNAL)
Ada dua golongan besar yang termasuk faktor luar yang mempengaruhi manusia. Dua golongan itu ialah golongan organis,yaitu manusia binatang dan tumbuh-tumbuhan dan golongan anorganis,termasuk di dalamnya adalah keadaan alam, dan benda-benda. Termasuk di dalam keadaan alam adalah iklim, perkehidupan petabi, pelaut, pegungungan, perdagangan, dan sebagainya) dan termasuk keadaan benda yaitu benda-benda alam yang bukan hasil budaya dan yang merupakan hasil budaya,misalnya keadaan perumahan bangunan-bangunan,dan sebagainya.
Ini semua member warna dalam perkembangan seseorang.Oleh karena itu sikap dan sifat seseornag anak kota berlainan dengan anak dari desa.Bukan perbedaanya kualitas dan yang lainya,melainkan hanya berbeda dalam bentuk atau gambarnya.Perbedaan itu disebabkan oleh faktor dalamnya.Faktor dalam yang mankah yang menerima pengaruh itu,sampai di mana ketajaman penerimaanya,untuk apakah pengaruh itu diterima dan sebagainya,menetukan warna seorang remaja,disamping faktor luarnya.

2.      FAKTOR DALAM, FAKTOR DASAR (INTERN)
Terdapat beberapa faktor intern dala perkembangan kepribadian remaja,yaitu:
1.      Perkembangan Seksualitas
Merupakan perkembangan yang terbawa oleh perkembangan jasmani yang mendekati kesempurnaan dalam masa remaja,matang pulalah kalenjar-kalenjar kelamin dalam dirinya,bagi remaja putra maupun remaja putrid.Hal ini menumbuhkan adanya desakan-desakan baru di dalam jiwa si anak ,yaitu desakan yang menghendaki layanan kebutuhan seksualitas.
2.      Perkembangan Fantasi
Perkembangan ini bermula pada fase masih kanak-kanak.Tetapi arah perkembanganya berubah pada waktu remaja,setelah menyaksikan tumbuhnya tubuh yang lain dari biasanya pada lawan jenisnya. Remaja putra bangga dengan kumisnya,tetapi ia tidak mengerti untuk apakah fungsi kumis itu sebenarnya. Remaja putrid bangga dengan kukunya,dsb. Kedunya saling berfantasi,walaupun merek tidak tahu faedahnya.hal ini mempengaruhi terhadap faktor kepribadian remaja.
3.      Perkembangan Emosi
Perkembangan ini mulai nampak pada masa pemuda fase negatif.Pada saat itu emosi remaja serba tidak menentu.Merasa sangat gelisah,rasa gundah,tetapi ia tidak mengerti.mengapa ia demikian resah,gelisah,sedih.Ia bersikap menolak perintah harapan,tetapi ia tidak mengerti apa yang akan diperbuat setelah menolak semuanya itu.
Pada akhir fase ini, para remaja berusah untuk menjadi pusat perhatian dari lingkunganya.Ia bersikap egois,bahkan ia merasa serba super,sehingga mau tidak mau lawan jenisnya tertarik,mengagumi dan akhirnya berserah diri padanya. Ini semuanya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat,kemudian ia berkembang menjadi harmonis sedikit demi sedikit.
Sikap introvertnya mulai kembali ekstovet.Ia mulai memuja sesuatu yang baik,apakah keadaan alam,sesuatu hasil seni ataukah lawan jenisnya.Ia bersikap memuja,baik kepada gurunya yang menghargai karyanya ataukah itu orang tuanya yang memuji kepandainya,apakh itu seorang gadis yang mengaguminya entah karena apapun.Di sinilah ia mulai menemukan akunya kembali.Ia mulai percaya kepada kepribadianyanya lagi.
4.      Perkembangan Kemauan/keinginan
Perkembangan kemauan/keinginan ini sedikit demi sedikit berbelok ke  arah yang dibutuhkan oleh desakan jasmani dan rohaninya waktu itu.Kadang-kadang keinginan itu demikian mendesak menuntut pemenuhan.Untuk itu di dalam perkembangan kemauan dan keinginan harus perlu pengawasan dari orang tua.
5.      Perkembangan Fikiran
Pada tahap perkembangan ini Remaja cenderung akan berkembang sendiri.Anak hanya mampu menerima pengaruh yang bersifat materiil dan kurang dapat menerima pengaruh yang bersifat spiritual,lebih-lebih yang bertingkat tinggi.
6.      Perkembangan Aestetika
Jika pada masa negative,aspek aestetika seakan-akan mengalami kemunduran,maka pada masa-masa berikutnya,sedikit demi sedikit mulai bangun kembali.Seakan-akan jiwa pemuda menjelang dewasa ini telah mampu menghayati dunia luar lebih mendalam,sehingga mampu merasakan apa yang dilihat,apa yang didengar dan apa yang dirasakanya,sehingga mampu menggerakan jiwanya,di dalam perkembangan kepribadianya.
7.      Perkembangan Religi
Perkembangan di dalam Pribadi Remaja tidak dapat menerima segala sesuatu yang berada di luar pikiranya.Ia selalu meminta bukti konkret untuk mendapatkan kebenaran. Dan kebenaran harus dapat dilihatnya dengan alat indera,dengan mata, telinga, peraba. Setahap demi setahap keadaan atau sikap semacam itu berkembang pula mengikuti perkembangan jiwanya. Sehingga perlu adanya pendekatan terhadap Agama dan kepercayaan masing-masing setiap individu.
Isu sentral pada remaja adalah masa berkembangnya identitas diri (jati diri) yang bakal menjadi dasar bagi masa dewasa. Remaja mulai sibuk dan heboh dengan problem “siapa saya?” (Who am I ?). Terkait dengan hal tersebut remaja juga risau mencari idola-idola dalam hidupnya yang dijadikan tokoh panutan dan kebanggaan. Faktor-faktor penting dalam perkembangan integritas pribadi remaja (psikologi remaja) adalah :
    1.     Pertumbuhan fisik semakin dewasa, membawa konsekuensi untuk berperilaku dewasa pula
    2.     Kematangan seksual berimplikasi kepada dorongan dan emosi-emosi baru
    3.     Munculnya kesadaran terhadap diri dan mengevaluasi kembali obsesi dan cita-citanya
    4.     Kebutuhan interaksi dan persahabatan lebih luas dengan teman sejenis dan lawan jenis
    5.     Munculnya konflik-konflik sebagai akibat masa transisi dari masa anak menuju dewasa.

Remaja akhir sudah mulai dapat memahami, mengarahkan, mengembangkan, dan memelihara identitas diri.Tindakan antisipasi remaja akhir adalah:
                  1.            Berusaha bersikap hati-hati dalam berperilaku dan menyikapi kelebihan dirinya
                  2.            Mengkaji tujuan dan keputusan untuk menjadi model manusia yang diidamkan
                  3.            Memperhatikan etika masyarakat, kehendak orang tua, dan sikap teman-temannya
                  4.            Mengembangkan sikap-sikap pribadinya

10.  Perkembangan Kesadaran Beragama Masa Remaja
Iman dan hati adalah penentu perilaku dan perbuatan seseorang. Bagaimana perkembangan spiritual ini terjadi pada psikologi remaja? Sesuai dengan perkembangannya kemampuan kritis psikologi remaja hingga menyoroti nilai-nilai agama dengan cermat. Mereka mulai membawa nilai-nilai agama ke dalam kalbu dan kehidupannya. Tetapi mereka juga mengamati secara kritis kepincangan-kepincangan di masyarakat yang gaya hidupnya kurang memedulikan nilai agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan perilaku amoral lainnya. Di sinilah idealisme keimanan dan spiritual remaja mengalami benturan-benturan dan ujian.
Perasaan remaja dalam beragama memang dapat dipengaruhi oleh perasaan beagama yang didapat dari masa sebelumnya dan lingkungan dimana ia tinggal. Bagi remaja yang tidak beruntung mempunyai orang tua bijaksana yang mampu memberikan bimbingan agama pada waktu kecil, maka usia remaja akan dilaluinya dengan berat dan sulit.
Gambaran remaja tentang Tuhan dengan sifat-sifatnya merupakan bagian dari gambarannya terhadap alam dan lingkungannya serta dipengaruhi oleh perasaan dan sifat dari remaja itu sendiri. Perasaan beragama pada remaja khususnya terhadap Tuhan tidaklah tetap. Kadang-kadang sangat cinta dan percaya kepada-Nya, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh bahkan menentang. 
1.    Percaya Turut-turutan
Kebanyakan remaja percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajaran agama, karena mereka terdidik dalam lingkungannya yang beragama, karena ibu bapaknya orang beragama, teman-temannya dan masyarakat sekelilingnya rajin ibadah. Maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah serta ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan di mana ia hidup.
Kepercayaan turut-turutan itu biasanya terjadi, apabila orang tuanya memberikan didikan agama dengan cara yang menyenangkan jauh dari pengalaman-pengalaman pahit di waktu kecil sehinga cara kekanak-kanakan dalam Bergama it uterus berjalan.
Percaya turut-turutan ini biasanya tidak lama dan banyak terjadi hanya pada masa-masa remaja pertama ( umur 13 tahun ). Sesudah itu bisanya berkembang kepada cara ynang lebih kritis dan lebih sadar.
2.    Percaya Dengan Kesadaran
Setelah kegoncangan remaja pertama ini agak reda, yaitu umur 16 tahun di mana pertumbuhan jasmani hamper selesai dan kecerdasan juga sudah dapat berpikir lebih matang dan pengetahuan telah bertambah pula. Semuanya itu mendorong remaja kepada lebih tenggelam lagi dalam memikirkan dirinya sendiri. Perhatian kepada ilmu apengetahuan dan agama serta soal-soal social masyarakat bertambah besar dan semakin membangun.
Kesadaran agama atau semangat agama pada maa remaja itu mulai dengan kecenderungannya remaja kepada meninjau dan meneliti kembali caranya beragama di masa kecil dulu.
3.    Kebimbangan Beragama
Kebimbangan terhadap ajaran agama yang pernah diterimanya tanpa kritikawaktu kecilnya merupakan pertanda bahwa kesadaran beragama telah terasa oleh remaja. Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidaklah sama berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan kepribadiannya.
Rasa keragu-raguan kepada Tuhan pun dapat berakhir dengan keingkaran, apabila ia merasa bahwa Tuhan tidak melindungi atau tidak menolong bangsa atau golongannya namun tidak semua remaja yang bimbang akan berakhir dengan keingkaran.
4.    Tidak Percaya Kepada Tuhan
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari wujud Tuhan dan menggantikannya dengan kepercayaan lain. Mungkin sekali remaja itu merasa tidak percaya kepada Tuhan, mengaku bahwa dirinya ateis.  Mungkin karena terlalu kecewa atau menderita bathin atau juga merasa sakit hati yang telah bertumpuk-tumpuk, sehingga ia putus asa terhadap keadilan dan kekuasaan Tuhan.
Biasanya para remaja itu apabila telah mengetahui sedikit tentang bermacam-macam ilmu pengetahuan, disangkanya bahwa ia telah hebat dan mendalami ilmu tersebut. Berbeda halnya dengan remaja yang beriman, mereka akan cemas melihat pengetahuan akan merongrong keyakinannya. Karena itulah maka semangat beragamanya semakin menyala dan berusaha mebela agama dari segala keumngkinan serang-serangan yang ditunjukkan kepada agama.
E.    Perkembangan Rasa Agama
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohani para remaja, maka agama para remaja ini menyangkut adanya perkembangan, yang mana penghayatan para remaja terhadapa ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja benyak berkaitan dengan perkembangan itu. Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohani, yaitu :
1.    Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Agama yang ajarannya bersifat lebih konsrvatif lebih banyak berpengaruh bagi para remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya.
2.    Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan Sosial, ethis dan setetis mendorong remaja untuk menghayati prikehidupan yang terbiasa dalam lingkungan kehidupan agamis akan cenderung mendorong dirinya untuk lebih dekat ke arah hidup agamis.
3.    Pertimbangan Sosial
Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material, remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan materi maka pandangan remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.
4.    Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha mencari  proteksi.
5.    Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal itu tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka. Lum selesai
F.    Pendidikan Agama Pada Remaja
Pada hakikatnya masa remaja yang utama ialah masa menemukan diri, meneliti sikap hidup yang lama dan mencoba-coba yang baru untuk jadi pribadi yang dewasa.  Para ahli psikologi dan pendidikan belum sepakat mengenai rentang usia remaja, namun beberapa ahli mengatakan bahwa usia remaja berkisar antara usia 13-19 tahun.
Dalam bidang agama, para ahli psikologi agama menganggap bahwa kemantapan beragama biasanya tidak terjadi sebelum usia 24 tahun, rentangan remaja mungkin diperpanjang hingga 24 tahun. 
Para ahli telah setuju bahwa masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak yang akan ditinggalkannya menjelang masa dewasa yang penuh tanggung jawab.  Dalam peta psiokologi remaja terdapat tiga bagian, yaitu :
a.    Fase Pueral
Pada masa ini remaja tidak mau dikatakan anak-anak, tetapi juga tidak bersedia dikatakan dewasa
b.    Fase Negatif
Fase ini hanya berlangsung beberapa bulan saja yang ditandai oleh sikap ragu-ragu, murung, suka melamun dan sebagainya
c.    Fase Pubertas
Secara umum, masa remaja merupakan masa pancaroba yang penuh dengan kegelisahan dan kebingungan. Hal ini lebih disebabkan oleh perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat berlangsungnya, terutama dalam hal fisik, perubahan dalam pergaulan sosial, perkembangan intelektual, adanya perhatian dan dorongan pada lawan jenis.
    Mengenai problema yang disebut terakhir, agama pada dasarnya remaja telah membawa potensi beragama sejak dilahirkan dan itu merupakan fitrahnya. Yang menjadi masalah saat ini ialah bagaimana remaja mengembangkan potensi tersebut???
    Ide-ide agama, dasar-dasar dan pokok-pokok agama pada umumnya diterima seseorang pada masa kecilnya. Apa yang diterima sejak kecilnya, akan berkembang dan tumbuh subur, apabila anak remaja dalam menganut kepercayaan tersebut tidak mendapat kritikan. Dan apa yang tumbuh dari kecil itulah yang menjadi keyakinan yang dipeganginya melalui pengalaman-pengalaman yang dirasakannya.
Mengenai perkembangan kognitif pada usia remaja sangat memberi kemungkinan terjadi perpindahan atau transisi dari agama lahiriah menuju agama yang bathiniah. Dengan demikian, perkembangan kognitif memberi kemungkinan remaja untuk meninggalkan agama anak-anak yang diperoleh dari lingkungannya dan mulai memikirkan konsep serta bergerak menuju iman yang sifatnya sungguh-sungguh personal.


B.     Tugas-Tugas Perkembangan Remaja
1.      Pengertian Tugas Perkembangan Remaja
Secara umum tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya mengurangi atau bila mungkin menghilangkan sama sekali sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk menepati kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut Hurlock dalam Mappiare (1992) adalah berusaha agar:
1. Mampu menerima keadaan fisiknya.

Pada periode pra-remaja, anak tumbuh demikian cepat yang mengarah pada bentuk orang dewasa, diiringi perkembangan sikap dan citra diri. Remaja diharapkan dapat menerima keadaan diri sebagaimana adanya keadaan diri mereka sendiri, bukan khayalan dan impian.

2. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa

Dalam masa remaja diharapkan mereka menerima keadaan diri sebagai pria atau wanita dengan sifat dan tanggung jawab kaumnya masing-masing. Sering kali terjadi ada remaja yang menyesali diri sebagai pria atau wanita, terutama jika bentuk tubuh mereka tidak memuaskan.

3. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.

Akibat adanya kematangan seksual yang dicapai sejak awal masa remaja, para remaja mengadakan hubungan sosial terutama hubungan dengan lawan jenis merupakan suatu kewajaran. Dalam hal ini, seorang remaja haruslah mendapat penerimaan dari kelompok teman sebaya lawan jenis atau sesama jenis agar memperoleh rasa dibutuhkan dan rasa berharga.

4. Mencapai kemandirian emosional.
Tugas perkembangan yang harus dihadapi remaja adalah bebas dari ketergantungan emosional seperti dalam masa kanak-kanak mereka. Dalam masa remaja, seseorang dituntut untuk tidak lagi mengalami perasaan bergantung semacam itu.

5. Mencapai kemandirian ekonomi.
Kesanggupan berdiri sendiri dalam hal yang berhubungan dengan ekonomi merupakan tugas perkembangan remaja yang penting, karena mereka akan hidup sebagai orang dewasa kelak.

6. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.
Sebagai hasil dari perpaduan unsur-unsur pertumbuhan biologis dan keragaman pengalaman dengan lingkungan, remaja dapat mengembangkan kemampuan mentalnya. Remaja sudah memiliki kemampuan untuk berfikir atau nalar tentang sesuatu yang berada di luar pengalamannya atau sistem nilai yang dimilikinya. Dengan kata lain , remaja sudah dapat memikirkan kemungkinan sesuatu yang abstrak secara sistematis untuk memecahkan suatu persoalan atau masalah.

7. Memahami dan menginternalisasi nilai-nilai orang dewasa dan orang tua

8. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa
Proses pengikatan individu kepada kelompok sosialnya telah berkembang sejak lahir. Proses ini diperluas selama masa anak dan remaja. Remaja yang mengikuti kegiatan keagamaan akan dapat mengembangkan sikap batin atau sikap keterikatan sosialnya terhadap orang lain.

9. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
Sikap remaja terhadap pernikahan ternyata beragam, sebagian remaja bersifat antagonistik (menentang dan merasa takut) dan sebagian lainnya menerimanya dengan sikap positif.

10. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Tugas-tugas fase perkembangan remaja ini amat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan, diperlukan kemampuan kreatif remaja yang diwarnai oleh perkembangan kognitifnya.

2. Klasifikasi Tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas perkembangan remaja terdiri dari 3 bagian yaitu, tugas perkembangan remaja berkenaan dengan kehidupan pribadi sebagai individu, pendidikan dan karier, serta dalam kehidupan berkeluarga kelak. Berikut ini merupakan uraian dari masing-masing bagian tersebut beserta karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1. Kehidupan pribadi sebagai individu
Kehidupan pribadi sangat rumit dan kompleks sehingga sulit untuk dirumuskan. Sebagai makhluk individu, seseorang menyadari bahwa dalam kehidupannya memiliki kebutuhan yang diperuntukkan bagi kepentingan diri secara pribadi, baik fisik maupun nonfisik. Dalam pertumbuhan fisiknya, manusia memerlukan kekuatan dan daya tahan tubuh serta perlindungan keamanan fisiknya. Kondisi;i fisik amat penting dalam perkembangan dan pembentukan pribadi seoseorang.
Kehidupan pribadi seorang individu merupakan kehidupan yang utuh dan lengkap dan memiliki ciri khusus dan unik. Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek emosional, sosial psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan aspek tersebut adalah kehidupan keluarga beserta berbagai aspeknya, yang meliputi:
v Status sosial ekonomi,
v Filsafat hidup keluarga,
v Pola hidup keluarga.
Selain itu faktor lain yang berpengaruh yaitu faktor keturunan dan lingkungan yang sesuai dengan aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi.
·         Aliran nativisme menyatakan bahwa perkembangan seorang individu ditentukan oleh kemampuan dan sifat yang dibawa sejak dilahirkan
·         Aliran empirisme menyatakan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh lingkungan tempat ia berkembang, jadi bisa dikatakan seorang individu akan berkembang sesuai dengan kehendak lingkungan.
·         Aliran konvergensi menyatakan bahwa perkembangan seorang individu dipengaruhi oleh kemampuan dan sifat yang dibawa sejak lahir dan lingkungan tempat ia dibesarkan, dengan kata lain aliran ini merupakan penggabungan antara aliran nativisme dan aliran empirisme.

2. Kehidupan Pendidikan dan Karier
Pada hakikatnya manusia selalu ingin tahu, maka atas dasar hakikat tersebut manusia senantiasa belajar untuk mencari tahu hal-hal yang ada di sekitarnya. Banyak bangsa yang mengikuti prinsip pendidikan seumur hidup, yang artinya adalah manusia itu senantiasa belajar sepanjang hayatnya.
Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik melalui badan pendidikan formal maupun nonformal. Berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kehidupan pendidikan yang dimaksud adalah sesuatu yang dialami oleh remaja sebagai peserta didik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan kehidupan masyarakat. Sedangkan kehidupan karier merupakan pengalaman seseorang dalam dunia kerja. Seperti dikatakan oleh Garrison (1956), bahwa setiap tahun terdapat jutaan pemuda dan pemudi memasuki dunia kerja di seluruh dunia. Peristiwa seseorang rernaja masuk ke dunia kerja itu merupakan awal pengalaman dalam kehidupan berkarya (berkarier). Pada hakikatnya kehidupan remaja dalam pen­didikan merupakan awal kehidupan kariemya.
Cita-cita tentang jenis pekerjaan di masa yang akan datang merupakan faktor penting dan merupakan langkah awal dalam kehidupan pendidikan dan kariernya. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pendidikan dan karier adalah:
1. Faktor sosial-ekonomi, kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua dan kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya
2. Faktor lingkungan, terdiri atas 3 hal:
·         Lingkungan kehidupan masyarakat, hal ini akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan dan mempengaruhi pola pikirnya tentang pendidikan dan kariernya
·         Lingkungan kehidupan sekolah, kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan dan karier remaja
·         Lingkungan teman sebaya, pergaulan teman sebaya akan berpengaruh secara langsung terhadap kehidupan pendidikan masing-masing remaja
3. Faktor pandangan hidup, merupakan bagian yang terbentuk karena lingkungan.
3.  Kehidupan Keluarga
Tugas perkembangan remaja dalam hubungannya dengan persiapan mereka untuk memasuki kehidupan baru, yaitu kehidupan berkeluarga. Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan bahwa secara biologis pertumbuhan remaja telah mencapai kematangan seksual dan telah siap melakukan fungsi produksi. Kematangan fungsi seksual tersebut berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja dan mulai tertarik kepada lawan jenis. Garrison (1956) menyatakan bahwa dorongan seksual pada masa remaja cukup kuat, sehingga perlu dipersiapkan secara mantap tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan, karena masalah tersebut mendasari pemikiran mereka untuk mulai menetapkan pasangan hidupnya.
Berkenaan dengan upaya untuk menetapkan pilihan pasangan hidup, perkembangan sosial psikologis remaja ditandai dengan upaya menarik lawan jenis dengan berbagai cara yang ditunjukkan dalam bentuk perilaku. Dalam situasi pergaulan yang khusus atau ber­kencan, seorang gadis hendaknya bersikap pasif dan perjaka yang lebih bersikap aktif. Pada umumnya remaja, khususnya wanita, tidak mengalami kesulitan untuk menerima tugas tersebut. Hanya sebagian kecil dari mereka mengalami sedikit kesulitan.
Hampir setiap remaja mempunyai dua tujuan utama, pertama menemukan jenis pekerjaan yang sesuai, kedua menikah dan membangun sebuah rumah tangga (keluarga). Hal ini tidak selalu harus muncul dalam aturan tertentu, tetapi perlu diketahui bahwa seorang remaja akan mengalami “jatuh cinta” di dalam kehidupannya setelah mencapai usia belasan tahun (Garrison, 1956: 48)





BAB III
ANALISIS KASUS
1.      Kasus Bipolar Disorder : Sheyna dan Dunianya
Gambaran Kasus
Sheyna, 13 tahun, memiliki orangtua yang overprotective dan sangat menuntut supaya Sheyna mengikuti apa saja perintah yang diberikan kepadanya.
Sheyna merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara, dan hanya ia yang perempuan. Sheyna menganggap dirinya sangat bergantung pada orangtua, ditambah lagi orangtua memperlakukan Sheyna seperti anak kecil yang berusia di bawah usia dirinya.
Kedua kakak Sheyna sangat pembangkang bahkan kakak pertama Sheyna (18 tahun) pernah blak-blakan mengaku kepada orangtua mereka bahwa ia telah melakukan aktivitas seksual dengan teman di sekolah. Tentu saja, orangtua menjadi sangat marah, apalagi orangtua sangat strict terhadap isu-isu seksual. Bahkan, orangtua selalu membahas kepada Sheyna dan kedua kakak bahwa virginity itu harus dijaga hingga kelak menikah. Kondisi kakaknya ini berbanding terbalik dengan Sheyna yang sangat pasif dan penurut, serta menjadi satu-satunya anak yang dianggap “baik” oleh orangtuanya sehingga Sheyna dijuluki “Little Miss Perfect”.
Ada riwayat sakit mental di dalam keluarga Sheyna. Nenek kandung Sheyna dari pihak Ibu serta Bibi Sheyna dari pihak Ayah sama-sama menderita depresi.
Sheyna mengalami insomnia sejak ia berusia 10 tahun. Setiap malam ia mengalami kesulitan untuk tidur dan akhirnya mengganggu kegiatan belajar di sekolah. Nilai Sheyna sampai mengalami penurunan yang cukup parah, sehingga orangtua memutuskan supaya Sheyna menjalani home-schooling saja supaya Sheyna dapat mengatur waktu kapan untuk belajar. Perilaku insomnia ini dialami Sheyna pasca pertengkaran hebat di dalam keluarga, di mana kakak pertama Sheyna ternyata sampai menghamili temannya di sekolah. Pada saat itu, kondisi rumah sangat “panas”, Ayah dan Ibu selalu bertengkar setiap ada kesempatan di pagi-siang-sore-malam. Keadaan semakin memanas karena kakak pertama Sheyna sempat kabur dari rumah bersama teman yang ia hamili, sehingga memicu pertengkaran antara keluarga Sheyna dengan keluarga yang anaknya dihamili oleh kakak Sheyna tersebut. Kondisi tersebut berlangsung hingga kurang-lebih dua bulan dan sejak itu, Sheyna sulit sekali memejamkan mata seberapa pun dirinya mengantuk karena bayangan pertengkaran dan suasana memanas itu selalu menghantui Sheyna. Untuk pertama kalinya, di masa sebulan itu, Sheyna mengalami ledakan emosi yang tinggi.
Sejak saat itu, Sheyna juga semakin sering menyendiri di dalam kamar untuk menghindari pertengkaran. Bagi Sheyna, dia menjadi lebih rileks dengan berada di dalam kamar. Dia juga semakin bisa berpikir, mencari tahu, dan menganalisa segala hal yang ia senangi. Sheyna tertarik dengan politik dan memiliki pemikiran tersendiri tentang politik, misalnya ia percaya bahwa dirinya merupakan reinkarnasi dari seorang politikus Romawi di masa lalu.
Keluarga dan teman-teman Sheyna melihat Sheyna sebagai orang yang sangat rapi dan teroganisir. Sheyna senang menuliskan apapun ide-ide yang ia miliki dan menuliskan di buku diary, komputer, bahkan dinding kamarnya penuh dengan papernote yang ditempelkan secara berantakan dan berisi ide-idenya tersebut. Kebanyakan ide yang Sheyna tuliskan berisi tentang hal-hal yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan di dalam keluarganya, seperti tentang dorongan seksual dan tingkat spiritualitas. Aktivitas ini semakin menjadi-jadi saat ia merasakan gairah luar biasa untuk melakukan sesuatu.
Selama proses pertengkaran di dalam keluarganya, Sheyna sempat mengalami depresi dan depresi yang ia miliki semakin menjadi-jadi karena hingga saat ini Sheyna masih menderita insomnia. Sheyna juga menderita kesulitan untuk makan dan konsentrasi. Di puncak depresinya, Sheyna akhirnya beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Ibu selalu menemukan Sheyna tepat waktu sehingga Sheyna masih bisa diselamatkan.
Analisa Kasus Sheyna
Istilah Bipolar Disorder (BD) dimunculkan karena pada kasus-kasus ganggguan jenis ini, anak tidak hanya akan mengalami periode episode mania (manic episodes) serta juga akan mengalami depresi (depression episodes) seumur hidup mereka. Manic dan depression sendiri merupakan dua hal yang saling berlawanan dan berbeda kutub.
Ada empat jenis mood episodes di dalam BD yaitu mania, hypomania, depresi, dan episode campuran. Ketika sedang berada dalam episode mania, maka anak akan  mengalami peningkatan aktivitas fisik maupun mental. Misalnya, menjadi sangat bersemangat ketika melakukan banyak  kegiatan, serta memiliki banyak ide-ide baru yang ingin diwujudkan. Sebaliknya, ketika ia sedang berada dalam episode depresi, maka ia akan mengalami penurunan aktivitas. Misalnya, anak menjadi tidak tertarik melakukan kegiatan sehari-hari, mengurung diri dalam suatu ruangan dan tertutup. Episode mania biasanya dimulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara dua minggu hingga lima bulan, sedangkan episode depresi cenderung berlangsung lebih lama.
Sheyna menunjukkan simptom perilaku yang mengarah ke Bipolar I Disorder. Sheyna meyakini bahwa dirinya merupakan reinkarnasi dari politisi Romawi di masa lalu, yang menunjukkan simptop psikotis ada pada dirinya. Simptom psikotis sendiri hanya muncul pada Bipolar I Disorder. Sheyna juga menunjukkan perilaku mania dengan cara menuliskan semua ide-ide yang ia miliki di buku diary, komputer, bahkan papernote yang ditempel berantakan di dinding kamarnya. Ide-ide tersebut termasuk pula ide-ide yang sebenarnya selalu tabu untuk dibicarakan di dalam keluarga (tentang seksualitas dan spiritualitas). Perilaku ini jelas berbeda dengan kebiasaan Sheyna yang selalu rapi dan terorganisir. Kemunculan perilaku mania ini dibarengi pula dengan kemunculan perilaku depresi yang membuat Sheyna sampai beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri.
Masalah genetis adalah faktor umum yang menjadi penyebab BD. Anak yang memiliki salah satu orangtua dengan BD memiliki resiko mengidap penyakit yang sama sebesar 15-30%. Apabila kedua orangtuanya mengidap BD, maka anak-anaknya beresiko mengalami BD sebesar 50-75%. Kembar identik dari seorang pengidap BD juga memiliki resiko tertinggi akan juga mengalami BD dibandingkan anak yang bukan kembar identik.
Orangtua dengan anak yang mengalami depresi biasanya juga memiliki saudara dekat  (first-degree relatives) yang mengalami mood disorder. Ibu yang mengalami depresi juga besar kemungkinan akan memiliki anak yang juga mengalami depresi.
Pada kasus Sheyna, ditemukan bahwa ada riwayat genetis di dalam keluarga dekatnya yang memiliki gangguan depresi, yaitu Nenek kandung Sheyna dari pihak Ibu serta Bibi Sheyna dari pihak Ayah. Perlu ada pemeriksaan mendalam tentang apakah kasus Sheyna terkait dengan riwayat genetis di dalam keluarganya. Tetapi, kemungkinan itu tetap ada.
Secara fisiologis, salah satu faktor utama penyebab seseorang mengidap BD adalah karena terganggunya keseimbangan cairan kimia utama di dalam otak seperti hormon norepinephrindopamine, dan serotonine. Sebagai contoh, ketika seseorang yang mengalami BD dan kadar dopamine dalam otaknya sedang tinggi, maka saat itu ia akan merasa sangat bersemangat, antusias, dan agresif.
Ada pula Central Nervous System (CNS) yang mempengaruhi mood seseorang. Pentingnya pengaruh CNS pada mood seseorang sudah diketahui sejak lama, diawali dengan adanya penelitian terhadap orang dewasa yang diberi obat reserpine untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Hasilnya, 20% dari orang tersebut menjadi mengalami depresi parah. Sejak saat itu, diketahui bahwa reserpine memang menurunkan pergerakan dari monoamine neurotransmitters (norepinephrindopamine, dan serotonine) dalam CNS. Penemuan ini mengarahkan pada munculnya monoamine hypothesis, yaitu penurunan monoamine neurotransmitters menyebabkan depresi. Hipotesis ini rpada perkembangan pengobatan trycyclic antidepressant, seperti imipramine, yang menyebabkan peningkatan monoamine neurotransmitters dan mengurangi perasaan depresi.
Penelitian selanjutnya menemukan bahwa monoamine hypothesis terlalu sederhana karena ditemukan juga neurotransmitters lainnya yang banyak berpean dalam depresi. Ada pula peranan hypothalamus-pituitary-adrenal (HPA) yang merespon stress.
Sementara itu, secara psikologis, seseorang yang mengalami banyak tekanan dari dalam maupun luar dirinya akan dapat mengalami disstres berkepanjangan. Apabila tidak ditambah dengan strategi pemecahan masalah (coping) yang memadai, maka ia pun dapat menderita BD.
Pola asuh orangtua yang neglectful dan abusive juga mempengaruhi perkembangan anak, di mana anak berkemungkinan untuk mengalami depresi yang disebabkan oleh stress. Bayi atau anak yang masih kecil yang belum mampu melakukan regulasi emosi atau mood negatif akan mengalami mood negatif lebih sering dan memakan waktu lebih lama, di mana hal ini meningkatkan kemungkinan mereka untuk mengembangkan perilaku BD pada masa anak-anak dan remaja. Regulasi emosi ini mengacu pada proses pengaturan pengendalian, dan modifikasi dari emotional arousal untuk menghasilkan perilaku yang adaptif. Tujuan utama dari regulasi emosi pada bayi adalah supaya mereka mempelajari cara untuk meregulasi dorongan emosi yang disebabkan stress fisiologis, seperti kebutuhan untuk mendapatkan makanan. Meskipun bayi memiliki kemampuan untuk menenangkan diri sendiri di masa-masa stressful, namun pengaturan terhadap dorongan tersebut harus dibantu oleh orang lain seperti dengan digendong, diberi makan, dan diberi kehangatan emosional.
Menurut Meilissa Miguez dkk dalam jurnalnya, Screening for bipolar disorder in adolescents with the Mood Disorder Questionnaire–Adolescent version (MDQ-A) and the Child, bahwa Bipolar Questionnaire (CBQ)Kemungkinan terjadinya gangguan bipolar (BD) pada usia muda sekarang telah diakui, dengan onset antara usia 15 dan 19 seperti yang telah ditunjukkan dalam ulasan pada awal prodrome dan pengakuan dari BD. 5,6 antara 15% dan 28% dan 50% dan 66% dari orang dewasa dengan BD dilaporkan usia onset sebelum 13 dan 19 tahun, berturut-turut. model kognitif kerentanan stres dapat menjelaskan mengapa saat remaja adalah (umur yang berisiko) untuk terjadinya BD dan meskipun kesadaran penyakit ini dalam komunitas medis, remaja dengan BD masih rentan terhadap  alasan yang tidak dapat diterima  berturut-turut 6-10 tahun durasi perlakuan  penyakit  yang tidak diobati.
Presentasi klinis penyakit pada anak-anak, gejala yang tumpang tindih dari BD dan gangguan perhatian defisit/hiperaktif (ADHD) dan co-morbiditas yang tinggi antara dua kondisi medis adalah tiga faktor yang menyebabkan kesulitan untuk mendiagnosa Pediatri BD.  pertanyaan tentang fenomenologi  yang berbeda dari  Pediatri versus BD dewasa telah diuji. presentasi variabel gejala sebagian besar tergantung pada perkembangan umur.  BD pada anak-anak telah  terputus, kronis dan tidak teratur.  studi tentang BD dan ADHD melaporkan sering  terjadi dari kedua diagnosa dan kemungkinan terjadi peningkatan diagnosis yang tidak wajar dari ADHD pada remaja.
Gejala yang tidak konsisten telah dilaporkan oleh orang tua, guru dan anak berkontribusi pada kontroversi tentang signifikansi  klinis pada gejala gangguan subthreshold mood yang umum. Untuk meningkatkan diagnosis anak dan remaja BD dalam komunitas praktek, kehandalan dan keabsahan menggunakan beberapa strategi informan harus diteliti. Hipotesis diagnostik yang dilakukan secara seksama membantu untuk lebih percaya diri mengenali BD, dan rekomendasi dalam penilaian Pediatri Bd harus dilaporkan.  ketika penilaian mutu berbasis penelitian dilaksanakan, hampir satu setengah dari remaja sebelumnya didiagnosa mengalami  bipolar yang diklasifikasikan sebagai depresi atau gangguan perilaku. meskipun instrumen semistructured ada untuk diagnosis BD pada remaja, mereka sangat memakan waktu, membutuhkan pelatihan khusus dan tidak dapat digunakan secara rutin dalam praktek klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan instrumen pediatrik BD telah dikembangkan, di antaranya kuesioner Bipolar anak (CBQ) dan kuesioner kekacauan suasana hati- versi remaja (MDQ-A). CBQ dikembangkan sebagai pengaturan diri laporan orang tua untuk menetapkan kriteria inklusi pada anak-anak-penelitian onset BD dan mendeteksi kehadiran dari penyakit  ADHD. MDQ-A diadaptasi dari MDQ, instrumen yang sah dan handal untuk skrining BD pada orang dewasa. Menurut studi validasi asli, versi orangtua mengungguli laporan kejiwaan remaja dalam populasi kejiwaan pasien rawat jalan.
Dalam kasus Sheyna, BD yang diderita Sheyna merupakan masalah yang perlu penanganan hingga seumur hidup karena tidak dapat dengan mudah ditentukan bahwa gejala mania dan depresi yang diderita Sheyna tidak akan lagi muncul di masa depan. Cara terbaik untuk memberikan treatment kepada Sheyna adalah dengan memberikan  pengobatan medis yang tepat serta menjalani psikoterapi. Misalnya, mengkombinasikan pemberian obat antipsychotic (seperti: Seroquel) dan mood-stabilizer (seperti: Lithium), ditambah psikoterapi (seperti: terapi regulasi emosi, anger management untuk membantu Sheyna dalam mengatasi mania dan depresi yang muncul di dirinya).

1.      Kasus Psychasthenia : Aku Tanpa emosi
Gambaran Kasus
CD adalah laki-laki berumur 15 tahun yang dirawat di unit psikiatri remaja dengan onset baru  psikosis. Sebelum istirahat pertama untuk psikotik, ia adalah  mahasiswa yang sangat brilian. Dia bermain sepak bola dan bola basket dengan teman-temannya. memiliki  rasa realitas yang masih utuh. Setelah istirahat psikotik, ia tidak bisa membaca buku atau berkonsentrasi pada belajar  Ketika ia berusia 14 tahun dan sekolah SMP, ia merasa perasaan tidak nyaman di otaknya untuk pertama kalinya dan dia mulai mengalami kesulitan mengatur pikirannya. Saat berusia 6 tahun  ia menderita dari gangguan tic (mata berkedip, batuk kering). Informasi dari ibunya mengungkapkan bahwa CD keras kepala di masa kecilnya . Dia memiliki obsesif kepentingan dalam hal-hal seperti mengumpulkan mainan dan bermain sepak bola. Dia berkonsentrasi intens ketika ia belajar. Ibunya memiliki sejarah yang sama dengan gejala yang memerlukan pemeriksaan medis. CD mengeluh mengalami kesulitan mengingat suatu kesan yang sesuai situasi umum. Misalnya , ketika ia melihat bayi, sulit baginya untuk mengingat perasaan 'cute'. Ketika ia mencoba untuk makan makanan ringan, sulit untuk merasakan suka cita makan. Dia merasa kehilangan emosi sederhana seperti kebahagiaan atau kesenangan.

Analisis Kasus
Psychasthenia adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan fobia, obsesi, kompulsi, atau kecemasan berlebihan. Pasien dengan psychasthenia tidak dapat menolak tindakan tertentu atau pikiran, terlepas dari sifat maladaptif mereka dan memiliki cukup kontrol atas kesadaran mereka berpikir dan memori  yang ada, kadang-kadang berkeliaran tanpa tujuan dan melupakan apa yang mereka lakukan. Pikiran mereka dapat terbagi dan membutuhkan  usaha yang signifikan untuk mengaturnya, sering mengeluarkan kalimat yang tidak sebagaimana dimaksud, membuat sedikit perasaan kepada kepada orang lain. Mental yang konstan berusaha menginduksi kelelahan fisiologis yang mampu memperburuk kondisi tersebut. Meskipun demikian, psychasthenia telah menjadi gangguan yang terlupakan. Dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (Edisi 10), Psychasthenia diklasifikasikan sebagai " gangguan neurotik " (diagnostik kode F48.8), tetapi tidak ada penjelasan tambahan tentang gangguan ini. Istilah Psychasthenia ini pertama kali digunakan oleh Pierre Janet. Pada saat itu, hanya sedikit perhatian yang diberikan untuk konsep ini. Istilah ini tidak ada lagi dalam kejiwaan. Penggunaan diagnostik, meskipun masih membuat satu dari sepuluh sub-skala klinis populer Minnesota Multiphasic Personality Inventory ( MMPI ). Psychasthenia mirip dengan gangguan obsesif-kompulsif namun bukan konsep asli dari pengurangan tonus psikologis.
Kondisi CD lebih mirip dengan obsesif  kompulsif, meskipun ia memiliki karakteristik selain neurosis umum. objek berpikir kompulsif bervariasi, dan tidak ada dicatat perilaku atau tindakan mental untuk menetralisir nya pemikiran kompulsif.  Psychasthenia tidak memiliki kriteria lain untuk bertemu gangguan mental. Mereka mengatakan bahwa itu sulit untuk mempertahankan fungsi psikologisnya. mereka harus mengambil perhatian kompulsif mereka. perbedaan yang paling karakteristik dengan skizofrenia adalah  bahwa mereka memiliki rasa kenyataan, setidaknya secara lahiriah. Secara historis, istilah psychasthenia telah dikaitkan  terutama dengan karya Pierre Janet,  yang dibagi ke dalam neurosis psychasthenias dan Histeria, membuang istilah  neurasthenia, karena tersirat teori neurologis di mana tidak ada kemampuan3) .Pasien dengan psikastenia menunjukkan hiper atau hipoiritabilitas , khususnya dalam bidang psikis, semacam kelemahan dalam kemampuan untuk mengurus, mengatur, dan mensintesis perubahan pengalaman. Seorang pasien dengan psychasthenia lebih suka untuk menarik diri dari teman-temannya dan tidak terkena situasi di mana kompleks abnormal kuat yang mampu merampas pikiran, memori, dan ketenangan . Pasien dengan psychasthenia kurang percaya diri dan rentan terhadap pikiran obsesif, tidak berdasar ketakutan, pengawasan diri, dan kebingungan.
Pada pasien kami, psychasthenia jelas berbeda  dari gangguan obsesif-kompulsif dan skizofrenia. Pasien psychasthenia dengan perjuangan terus-menerus  untuk mempertahankan realitas, dan mereka mengeluh  kelelahan psikologis. Sebaliknya, pasien dengan  neurasthenia mengeluh kelelahan fisik dengan  pengertian utuh tentang realitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasien  dengan psychasthenias mengeluh penurunan karena penurunan ketegangan psikologis atau  upaya untuk memulihkan pengurangan ketegangan.
Ketika ia mengunjungi rumah sakit, ia mengatakan bahwa ia merasa bahwa otaknya lelah dan diperketat. Ketika ia merasakan ini , ia tidak dapat bertindak secara alami . Kondisi ini menjadi buruk ketika CD melihat wanita, ketika ia melihat musisi perempuan di televisi, ia merasa bahwa otaknya telah menjadi lumpuh. Dia memiliki pemikiran kompulsif dalam berbagai situasi. Dia terobsesi dengan pernapasan, makan, berjalan secara alami, dan berbicara lancar. Dia mendorong dirinya untuk bertindak secara alami, tetapi hal itu tidak bekerja. Dia melakukan apa yang ingin ia katakan lebih dan lebih dari berpura-pura menjadi alami . Dia disajikan dengan suasana hati yang depresif ( CDI 27 ) dan pikiran obsesif ( Y - BOCS 27 ) . laboratorium skrining hitung darah lengkap ( CBC ) temuan yang tidak signifikan . Gejala psikotik mereda ( CDI 14 ) dalam waktu 20 hari setelah ia memulai kembali terapi obat antidepresan .
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasien dengan psychasthenia mengeluh mengenai  penurunan yang terjadi karena pengurangan ketegangan psikologis atau upaya untuk memulihkan pengurangan ketegangan.




BAB IV
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan masa di mana anak akan mencari jati dirinya. Keluarga mempunyai andil besar dalam mendidik sang anak agar dapat tumbuh dengan baik dan dapat dengan mudah melewati fase remaja yang akan di lewati oleh anak tersebut. Maka kasih sayang dan perhatian dari orangtua, guru, keluarga dan lingkungan sekitarnya sangat dibutuhkan remaja dalam menjalani masa di mana para remaja mencoba untuk mencari jati dirinya. Perkembangan remaja dapat dilihat dari sudut pandang psikologi dalam berbagai aspek, yaitu perkembangan fisik, kognitif, sosial, emosi, moral, kepribadian, dan kesadaran akan beragama.
Tugas-tugas perkembangan remaja yang meliputi tugas kehidupan pribadi sebagai individu, kehidupan pendidikan dan karier, serta kehidupan keluarga merupakan langkah awal seorang remaja dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat agar diterima sebagai individu yang mandiri dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi masyarakat yang sangat kompleks. Penyimpangan/kenakalan remaja juga tidak lain karena adanya aspek perkembagan masa remaja yang terganggu.
2.      Saran
a.         Saran untuk remaja
Hendaknya para remaja mampu mamahami makna dan karakteristik perkembangan masa remaja dari berbagai aspek, faktor-faktor yang mempengaruhi dan pengaruh terhadap tingkah laku, serta mengupayakan pengembangan hubungan sosial remaja serta mengimplikasikannya. Remaja juga seharusnya bisa memenuhi tugas-tigas perkembangan dengan baik, dan memiliki kesadqaran diri untuk melewati masa remaja yang terbilang serba rentan ini dengan sebaik-baiknya. Karena, segala sesuatu baik atau buruk itu tergantung pada diri remaja sendiri.
b.        Saran untuk orang tua dan lingkungan sosial
Masa remaja adalah tindak lanjut dari masa kanak-kanak yang diawali dengan masa perubahan yang sering disebut dengan masa pubertas. Di Masa inilah peserta didik itu mulai gencar mencari tahu sesuatu yang menurut mereka masih asing dalam kehidupan mereka. Di masa ini pula sebaiknya pengekangan-pengekangan yang diterapkan di masa kanak-kanak hendaknya dikurangi. Karena biasanya anak-anak pada masa ini mulai mengerti mengapa di waktu kecil mereka dilarang untuk melakukan sesuatu yang bisa disebut tidak pantas, mereka akan mulai mengetehui masalah-masalah yang ada dalam kehidupan. Disini orang tua berperan sebagai penasihat sekaligus pengawas tingkah laku anak agar anak itu bisa mawas diri dan juga tidak ceroboh dalam mengambil suatu keputusan.
Daftar Pustaka

Sunarto, dan B. Agung Hartono. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta.
Puspa, Nadia. 2007. Perkembangan Social Remaja.
Suryabrata, Sumadi. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : C.V. Rajawali
Darajat Zakiah, 1995, Remaja Harapan dan Tantangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
B. Hur lock Elizabeth, 1999, Psikologis Perkembangan, Jakarta: Erlangga
Syamsu Yusuf, 2004, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rumini, Sri dan Siti Sundari. 2004.Perkembangan anak dan remaja.Jakarta:PT Rineka Cipta,.
Gerungan, W.A. 1998.Psikologi sosial.Bandung:PT Eresco,
Mappiare, Andi. 1982.Psikologi Remaja.Surabaya:Usaha Offset Printing
Yusuf, Syamsu. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosda Karya, 2007.
Santrock, John W. Adolescence (Perkembangan Remaja). The University of at Dallas: Times Mirror higher Education, 1996.
Ahyadi, Abdul Aziz. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: C.V. Sinar Baru, 1988.
Jalaluddin dan Ramayulis. Pengantar Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Kalam Mulia, 1987
Journal of Oriental Neuropsychiatry 2013:24(3):245-250. Hyun-Jung Lim, Yong-Ju Kwon, Jae-Eun Lee, Seung-Hun Cho
Screening for bipolar disorder in adolescents with the Mood Disorder Questionnaire–Adolescent version (MDQ-A) and the Child Bipolar Questionnaire (CBQ) , Melissa Miguez, Béatrice Weber, Martin Debbané, Dario Balanzin, Marianne Gex-Fabry, Fulvia Raiola, Rémy P. Barbe, Marylène Vital Bennour, François Ansermet, Stephan Eliez and Jean-Michel Aubr

  • Share:

You Might Also Like

1 comments